JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Arab Saudi menggelar pertemuan darurat tingkat Menteri Luar Negeri dari negara-negara Arab dan Islam di Riyadh, Rabu (18/3/2026).
Forum strategis ini diinisiasi untuk merumuskan langkah bersama dalam menjaga stabilitas kawasan yang kian terpuruk akibat berkecamuknya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.
Berdasarkan laporan diplomatik, pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari Azerbaijan, Bahrain, Mesir, Yordania, Kuwait, Pakistan, Qatar, Suriah, Turki, hingga Uni Emirat Arab. Fokus utama pembahasan adalah mitigasi dampak konflik yang kini mulai mengganggu rantai pasokan energi global.
Hampir memasuki pekan ketiga sejak perang pecah, belum ada tanda-tanda deeskalasi di lapangan. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, dilaporkan akan memberikan tekanan kuat pada jalur diplomasi.
“Perlu ada penyelesaian damai melalui perundingan sesegera mungkin,” tegas sumber diplomatik Turki mengutip pernyataan Fidan, sebagaimana dilansir Reuters.
Turki, sebagai anggota NATO yang berbatasan langsung dengan Iran, mengambil posisi kritis terhadap kedua belah pihak.
Ankara menilai serangan AS dan Israel ke wilayah Iran sebagai pelanggaran hukum internasional, namun di sisi lain juga mengecam serangan balasan Iran ke negara-negara Teluk sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.
Pertemuan di Riyadh ini diharapkan dapat melahirkan konsensus negara-negara Muslim untuk mendesak penghentian kekerasan dan mencegah perluasan konflik yang dapat melumpuhkan ekonomi dunia.












