JurnalPatroliNews | Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut pernah bertanya kepada Presiden China Xi Jinping apakah Beijing tertarik membeli senjata buatan AS. Pernyataan itu disampaikan Duta Besar AS untuk China David Perdue dalam wawancara dengan Fox News, beberapa hari setelah kunjungan kenegaraan Xi ke Washington.
Perdue mengungkapkan hal tersebut saat diwawancarai dalam program Fox News Sunday, Minggu (27/9/2026). Ia tidak menjelaskan kapan tepatnya Trump menyampaikan pertanyaan tersebut kepada Xi.
Menurut Perdue, Trump menggunakan argumen bahwa AS menjual persenjataan kepada berbagai negara ketika membicarakan penjualan senjata Washington kepada Taiwan.
“Presiden Trump terus mengatakan, kami menjual senjata kepada orang lain di seluruh dunia. Dia bahkan sempat bertanya kepada Presiden Xi, apakah dia ingin membeli beberapa,” kata Perdue.
Namun, pernyataan tersebut segera mendapat klarifikasi dari pemerintah AS. Departemen Luar Negeri AS menyatakan hukum negara tersebut melarang penjualan senjata kepada China dan menegaskan tidak ada tawaran maupun rencana untuk menjual senjata kepada Beijing.
Gedung Putih juga tidak mengumumkan adanya kesepakatan penjualan senjata kepada China dalam rangkaian kunjungan Xi ke Washington. Dalam kunjungan kenegaraan tersebut, Trump dan Xi bertemu di Gedung Putih pada 24 September 2026.
Taiwan Tetap Jadi Titik Sensitif
Pernyataan Perdue muncul ketika isu penjualan senjata AS kepada Taiwan kembali menjadi salah satu persoalan sensitif dalam hubungan Washington dan Beijing.
Washington telah mempertahankan hubungan pertahanan tidak resmi dengan Taiwan dan selama bertahun-tahun menyetujui penjualan peralatan militer kepada Taipei. China secara konsisten menentang penjualan tersebut dan meminta AS menghentikannya.
Pada Desember 2025, pemerintah AS memberikan pemberitahuan kepada Kongres mengenai paket penjualan senjata kepada Taiwan senilai sekitar US$11,1 miliar. Paket tersebut mencakup, antara lain, sistem HIMARS, howitzer M109A7, rudal Javelin dan TOW, serta berbagai sistem dan dukungan militer lainnya.
Sementara itu, paket persenjataan Taiwan senilai sekitar US$14 miliar masih menjadi agenda yang sensitif. Pada Mei 2026, Trump mengatakan paket tersebut belum diputuskan dan menyebut penjualan senjata kepada Taiwan sebagai alat negosiasi dalam hubungan dengan China.
Dalam perkembangan terbaru, isu tersebut kembali mencuat setelah pertemuan Trump dan Xi di Washington. China sebelumnya telah menyampaikan penolakannya terhadap penjualan senjata AS ke Taiwan dan dalam pertemuan dengan Trump, Xi disebut kembali mendesak Washington menentang kemerdekaan Taiwan.
Beijing Tak Konfirmasi Pernyataan Perdue
Di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun tidak secara langsung membenarkan maupun membantah pernyataan Perdue ketika ditanya wartawan pada Senin (28/9/2026).
Guo justru menegaskan posisi China mengenai pembangunan pertahanan nasional.
“China selalu memperkuat kemampuan pertahanannya berdasarkan kebutuhannya sendiri dan tetap berkomitmen untuk menjaga perdamaian dan stabilitas dunia,” kata Guo, sebagaimana dikutip Associated Press.
Sikap tersebut sejalan dengan posisi Beijing yang selama ini menekankan bahwa pengembangan kemampuan pertahanannya dilakukan berdasarkan kebutuhan keamanan nasionalnya sendiri. China juga berulang kali menyatakan penolakannya terhadap penjualan senjata AS kepada Taiwan.
Dengan demikian, pernyataan mengenai Trump yang disebut pernah menawarkan atau menanyakan kemungkinan pembelian senjata kepada Xi sejauh ini belum berkembang menjadi kebijakan atau transaksi resmi. Pemerintah AS secara terbuka telah menyatakan tidak terdapat tawaran maupun rencana penjualan senjata kepada China.









Komentar