Trump Kembali Beraksi, Inggris dan Irlandia Jadi Sasaran Tarif Baru!

JurnalPatroliNews – AS – Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang dipimpin Presiden Donald Trump kembali berencana memberlakukan tarif perdagangan terhadap dua negara Eropa. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi Washington dalam menyeimbangkan defisit neraca perdagangan bilateral.

Menurut laporan BBC News pada Selasa (1/4/2025), kedua negara yang menjadi target kebijakan ini adalah Inggris dan Irlandia. Untuk Inggris, pihak Downing Street menyatakan bahwa mereka mengantisipasi pengumuman tarif baru dari Trump yang diperkirakan akan disampaikan pada hari Rabu. Hal ini terjadi setelah tidak tercapainya kesepakatan guna menghindari dampak kebijakan tersebut.

“Mengenai tarif, Perdana Menteri menegaskan bahwa kepentingan nasional akan selalu menjadi prioritas. Kami telah mempersiapkan segala kemungkinan menjelang pengumuman dari Presiden Trump, yang kami perkirakan akan berdampak pada Inggris dan negara-negara lainnya,” ujar juru bicara Downing Street.

Ia juga menambahkan bahwa Inggris tetap berkomitmen dalam diskusi mengenai perjanjian ekonomi dengan AS, tetapi hanya akan menandatangani kesepakatan yang membawa manfaat nyata bagi rakyatnya.

Ketika ditanya apakah ada kemungkinan perjanjian untuk menghindari tarif baru, juru bicara tersebut menyebutkan bahwa negosiasi dengan AS kemungkinan akan terus berlangsung setelah hari Rabu. London tetap mengambil sikap tenang dan pragmatis dalam menghadapi kebijakan ini, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk merespons dengan tindakan tertentu.

Pernyataan tersebut muncul setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengadakan percakapan telepon dengan Trump pada hari Minggu. Inggris menegaskan bahwa hubungan dagangnya dengan AS lebih seimbang dibandingkan dengan mitra dagang lainnya.

Lembaga independen Inggris yang menangani anggaran (OBR) memperingatkan bahwa perang dagang dapat berdampak signifikan terhadap perekonomian, dengan potensi kehilangan miliaran dolar dalam pertumbuhan ekonomi. Menteri Keuangan Rachel Reeves pun berada dalam posisi sulit untuk menjaga kebijakan fiskalnya tetap sesuai aturan yang telah ditetapkan, mengingat tekanan yang muncul akibat kebijakan tarif AS ini.

Dalam skenario terburuk, di mana Inggris memilih untuk membalas kebijakan tarif Trump, OBR memperkirakan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris akan menyusut 0,6% tahun ini dan 1% pada tahun berikutnya. Jika Inggris tidak membalas, dampaknya akan lebih ringan, dengan penurunan PDB sebesar 0,4% tahun ini dan 0,6% tahun depan.

Irlandia Jadi Negara Paling Terdampak

Selain Inggris, Irlandia juga disebut-sebut akan mengalami dampak besar dari kebijakan tarif baru AS. Sebagai anggota Uni Eropa (UE), Dublin berada dalam posisi rentan karena AS berencana menaikkan tarif impor dari negara-negara UE hingga 20%.

Irlandia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pasar ekspor AS. Pada 2024, nilai ekspor barang Irlandia ke AS mencapai 73 miliar euro (sekitar Rp 1.307 triliun), yang hampir mencakup sepertiga dari total ekspornya. Industri farmasi menjadi sektor ekspor utama Irlandia, dengan banyak perusahaan AS seperti Pfizer dan Eli Lilly memiliki fasilitas produksi di negara itu.

Trump telah beberapa kali mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap besarnya manufaktur farmasi AS di Irlandia. Ia bahkan pernah menyebut bahwa negara kecil dengan populasi lima juta jiwa ini telah mengambil alih sebagian besar industri farmasi AS.

Komentar