JurnalPatroliNews | Jakarta — Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap rupiah pada perdagangan Kamis (22/10/2026). Berdasarkan data Bloomberg yang tercantum dalam bahan pemantauan pasar pukul 09.31 WIB, dolar AS berada di level Rp18.048, naik 26 poin atau sekitar 0,14% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.022.
Pergerakan tersebut menunjukkan rupiah mengalami tekanan pada awal perdagangan. Namun, arah pergerakan nilai tukar selanjutnya masih dapat berubah mengikuti dinamika pasar valuta asing sepanjang hari.
Di pasar global, dolar AS bergerak bervariasi terhadap sejumlah mata uang utama. Berdasarkan data yang sama, dolar AS menguat 0,01% terhadap dolar Kanada (CAD) dan naik 0,02% terhadap franc Swiss (CHF).
Sebaliknya, dolar AS melemah 0,03% terhadap euro (EUR), turun 0,05% terhadap yen Jepang (JPY), serta terkoreksi 0,07% terhadap pound sterling Inggris (GBP). Terhadap dolar Australia (AUD), mata uang AS tersebut melemah 0,23%.
Perbedaan pergerakan tersebut menunjukkan bahwa penguatan dolar AS terhadap rupiah tidak serta-merta terjadi terhadap seluruh mata uang utama dunia.
Bagi pelaku usaha, khususnya importir dan perusahaan yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS, perubahan kurs menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati. Penguatan dolar berpotensi meningkatkan kebutuhan rupiah untuk membayar transaksi impor atau kewajiban dalam valuta asing, bergantung pada nilai transaksi dan kurs yang digunakan.
Meski demikian, data pada pukul 09.31 WIB hanya menggambarkan kondisi pasar pada waktu pengamatan tersebut. Pergerakan hingga penutupan perdagangan perlu merujuk pada pembaruan data pasar berikutnya.
Sebagai pembanding, data Bank Indonesia mencatat Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) sebesar Rp17.986 per dolar AS pada 21 Oktober 2026. Angka tersebut merupakan kurs referensi BI untuk tanggal sebelumnya, sehingga tidak dapat disamakan langsung dengan kuotasi perdagangan Bloomberg pada pagi 22 Oktober 2026.









Komentar