Kerugian Negara Di Era Menkeu Sri Mulyani (2018 Hingga 2021) Rp 601 Triliun?

  • Whatsapp
Mentri Keuangan Sri Mulyani/Net.

JurnalPatroliNews Jakarta – SEMALAM saya dan seorang kawan berdiskusi via telpon tentang masalah korupsi dan kerugian keuangan negara. Diskusi tersebut membandingkan skala kasus-kasus korupsi/kerugian negara di Indonesia, mulai dari BLBI, e-KTP, Jiwasraya, Asabri, Century, hingga korupsi IUP Kutawaringin Timur.

Menariknya, kawan ini punya ide untuk mengategorikan masalah kelebihan bayar bunga utang pemerintah sebagai kasus kerugian negara juga.

BACA JUGA :

Apakah masalah kelebihan bayar bunga utang pemerintah?

Masalah kelebihan bayar bunga utang sudah sering disampaikan oleh ekonom senior DR Rizal Ramli (RR) di berbagai kesempatan kepada publik.

Bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Filipina, dan Vietnam, bunga yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia kelebihan 2,8 hingga 4,5 persen. Padahal dulu ketika era Menkeu Agus Martowardoyo (2010 hingga 2013), yield surat utang sempat turun hingga 0,5 sampai 1 persen di bawah Filipina dan 2,7 hingga 5,5 persen di bawah Vietnam.

Surat Utang Indonesia bunganya lebih murah dari kedua negara tersebut yang ratingnya lebih rendah dari Indonesia tersebut.

Kebijakan Menkeu Agus adalah kebijakan yang neuchter dan benar. Bunga surat utang Indonesia memang harus lebih murah dari negara yang ratingnya lebih rendah.

Di bawah ini adalah perbandingan yield surat utang (tenor 10 tahun) pemerintah Indonesia dan ketiga negara saat ini di bawah Menkeu Sri Mulyani.

Artinya bunga surat utang pemerintah Indonesia kemahalan. Sehingga beban pembayaran bunga utang kita meningkat setiap tahun. Keseimbangan primer, selisih antara pendapatan negara dan belanja negara tanpa memasukkan beban bunga utang, meningkat semenjak empat tahun terakhir.

DR Rizal Ramli juga sudah sering juga memberikan solusi alternatif untuk mengurangi beban bunga surat utang Indonesia yang kemahalan ini.

Caranya adalah dengan melakukan metoda debt swap dan debt to nature swap. Debt swap adalah menukar surat utang berbunga mahal dengan surat utang yang berbunga lebih murah dan tenor lebih panjang. Sedangkan debt to nature swap adalah pengurangan utang yang ditukar dengan kewajiban pelestarian hutan.

Kedua metode tersebut sudah pernah dikerjakan DR Rizal Ramli sewaktu menjabat menteri di tim ekonomi Kabinet Gus Dur (2000-2021).

Berdasarkan perhitungan kasar yang kami lakukan, beban bunga utang setiap tahun dapat berkurang sampai setengahnya bila dilakukan metoda debt swap seperti yang pernah dilakukan DR. Rizal Ramli.

Seandainya Indonesia memiliki menteri ekonomi seperti DR Rizal Ramli sejak empat tahun lalu, bukannya Sri Mulyani, beban bunga dapat berkurang setidaknya Rp 601 triliun!

 

(Penulis adalah pengajar di Universitas Bung Karno)

Pos terkait