Minggu, 16 Juni 2019 14:13 WIB

INSPIRASI DAN UNIK

Analisis Buku Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra

Beno - jurnalpatrolinews
Analisis Buku Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra Foto : Ist.

 

 

Penulis             : PROF. DR. AHMAD TAFSIR

Penerbit           :PT REMAJA ROSDAKARYA

Jika menilik pada pemikiran Kant terkait akal dan hati yang memiliki kesinambungan diantara keduanya. Yang jika melihat sejarah akal dan hati pada pemikiran jalur barat seperti Kant ini memiliki perbedaan dengan pandangan akal dan hati di jalur timur yaitu dunia islam. Dimana dalam buku kedua mengenai FILSAFAT UMUM akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, terdapat perbedaan mengenai akal dan hati yakni dari segi waktu dan sifat dominasinya. Dimana akal sedang kalah total di Barat, seperti misalnya dalam abad pertengahan namun di Timur akal sedang dihargai. Hal ini berkaitan dengan waktunya. Sedangkan mengenai sifat dominasinya, akal di Timur dihargai, tetapi tidak sampai mendominasi jalan hidup sehingga menyebabkan orang islam meninggalkan agama, lalu mengambil materialism dan ateisme. Sedangkan barat dominasi akan terlalu besar sehingga orang akan mengambil materialism dan ateisme sementara hati, ketika mendominasi akal secara total akan ditentang. Dalam hal dominasi ini bertolak belakang dengan pernyataan Kant dimana ia menyebutkan bahwa dalam memahami agama akal dan sains tidak dapat diandalkan maka selanjutnya morallah yang dapat menjawabnya. Sehingga antara Kant dan dominasi ini terdapat perbedaan penempatan akal dan hati dimana dominasi timur lebih kepada keberpihakan terhadap satu hal baik akal ataupun hati yang kemudian mendominasi. Namun menurut Kant akal dan hati ini diperlukan atau sama-sama menang.

Terdapat perbedaan antara pemikiran rasional (filsafat) dan rasa (tashawwuf) atau jalur hati (rasa), yang diantaranya ada yang bersiat prinsip. Akan tetapi perbedaan itu tidak menyebabkan ada orang islam yang didominasi oleh akal secara total sebagaimana halnya tidak ada juga orang islam yang didominasi oleh hati (rasa) seratus persen. Buktinya ialah tidak ada filosof maupun sufi islam yang meninggalkan iman, apalagi sampai mengambil paham materialisme atau atheism. Penghargaan terhadap Al-qur’an pada akal dan hati ini tidak menimbulkan akibat seperti di Barat. Jadi penghargaan pada akal di Barat dan di Timur sama-sama membawa akibat berkembangnya filsafat rasional, tetapi tidak sama kekuatan dominasinya terhadap jalan hidup manusia. Adanya pembahasan dominasi ini menilik pada beberapa abad yang terjadi adanya kemenangan terhadap satu hal saja misalnya hati atau akal semata. Dalam dunia barat yakni kitab suci Kristen memang tidak memberikan ruang bagi penggunaan akal berbeda dengan kitab suci Al-Quran yang menghargai akal dan hati sehingga terjadi pula perbedaan dominasi diantara keduanya.

penghargaan terhadap hati di barat dan timur sama-sama mengembangkan mistisisme, tetapi di barat sampai menjauhi filsafat, sedangkan di Timur tidak berakibat menjauhi akal. Mengapa demikian ? Karena Kitab Suci Islam (Al-Qur’an) menghargai akal dan hati, sedangkan kitab suci kristen memang tidak memberi tempat bagi penggunaan akal. Pertengahan anatara akal dan hati (iman) memang terjadi juga di dalam islam, tetapi tidak sehebat di Barat. Di Timur filosof ada yang benar-benar mengambil paham materialisme dan atau ateisme. Di dalam islam perbedaan antara filosof dan sufi hanyalah perbedaan visi dalam menafsirkan Kitab Suci; orang-orang filsafat umumnya menggunakan takwil kearah rasio sementara orang-orang tashawwuf juga menggunakan takwil, tetapi ke arah rasa. Perkembangan itu tidak meyebabkan gejolak yang berarti didalam islam. Gejolak ada juga sedikit seperti terlihat pada buku Al-Ghazali. Jadi, perbedaan dominasi itu, sekalipun tidak total, tetap ada merugikan Islam dan umat Islam.

Filosof menafsirkan kitab suci terlalu didominasi oleh akal rasional; metode dan ukurannya ialah logika. Dari cara ini muncul pendapat mereka yang sepintas seperti berlawanan dengan teks Kitab Suci. Nasution (1989:44-45) mengutip Al-Ghazali, menerangkan bahwa ada sepuluh pendapat filosof yang dianggap menyimpang dari Islam, menurut Al-Ghazali, yaitu : (1) Tuhan tidak mempunyai sifat, (2) Tuhan mempunyai substansi sederhana dan tidak mempunyai hakikat (mahiyah), (3) Tuhan tidak mengetahui partikular (Juz’iyyat), (4) Tuhan tidak dapat diberi sifat genus dan diferentia, (5) planet adalah bintang yang bergerak dengan kemauan, (6) jiwa planet mengetahui Juz’iyyat, (7) Hukum alam tidak dapat berubah, (8) pembangkitan jasmani tidak ada, (9) alam ini qadim, dan (10) alam ini kekal. Tiga diantara kesepuluh pendapat itu, menurut Al-Ghazali, membawa kepada kekufuran, yaitu (1) alam qadim (tidak mempunyai permulaan), (2) Tuhan tidak mengetahui partikular, dan (3) pembangkitan jasmani tidak ada.

Pemikiran rasional itu mungkin saja dapat menimbulkan akibat negatif bagi Islam dan umat Islam, tetapi mungkin juga Al-Ghazali yang benar bahwa pendapat itu dapat membawa kepada kekufuran. Akan tetapi, pemikiran rasioanal itu ternyata telah menunjang perkembangan budaya dalam Islam. Perkembangan itu terutama terjadi setelah abad ke-8 sampai dengan abad ke-13. Pada masa-masa ini berkembanglah penerjemahan karya yunani ke dalam bahasa Arab atas dorongan khalifah Al-Manshur dan Harun al-Rasyid, kemudian al-Ma’mun. berdirilah perguruan Bait al-Hikmah yang selain sebagai pusat penerjemahan, juga menjadi pusat pengembangan filsafat dan sains.

Kepala penerjemah di Bait al-Hikmah ialah Hunain Ibn Ishaq al-‘Ibadi (809-877), orang nasrani. Mereka menerjemahkan buku-buku yunani seperti karya Galen, Hipokrates, Ptolemeus, Euklid, dan Aristoteles. Yang mencakup pengetahuan filsafat, kedokteran, matematika, fisika, mekanika, botani, optika, astronomi, dan lain-lain. Gerakan penerjemahan ini berlangung selama tahun 750-900. Hasilnya ialah berkembangnya ilmu hitung, ilmu ukur, al-jabar, ilmu falak, kedokteran, kimia, ilmu alam, geografi, sejarah, dan bahasa serta sastra Arab di samping filsafat itu sendiri, terkenallah nama-nama besar seperti Al-Biruni (973-1048), Umar al-Khayyam (1048-1123), Ibn Musa al-Khawarizmi(780-850), Zakaria Ar-Razi (865-925), dan Ibn Sina (filosof dan dokter) (980-1037). Buku-buku ini kelak yang mempengaruhi Barat menuju modernisasinya.

Uraian selintas itu memperlihatkan bahwa penghargaan Al-Qur’an kepada akal telah menimbulkan kemajuan yang amat penting, itu adalah akibat yang positif. Akibat negatif juga ada, antara lain, Al-Qur’an cenderung dirasionalkan. Akibat yang lain adalah rasa beragama yang dangkal, beragama terasa kering, maka kesungguhan beragama akan kurang, dengan kata lain, agamanya kurang kuat.

Berkembangnya pemikiran rasional (filsafat) dalam islam memperoleh dorongan dari dua sumber : dari Al-Qur’an dan dari luar Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab suci yang diterima kebenarannya sehingga ia amat berwibawa. Berbeda dari kitab suci kristen, kitab suci yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw, amat menghargai akal. Kata arab yang dapat berarti “kegiatan pikir” cukup banyak terdapat di dalam Al-Qur’an.

Dalil-dalil naqli itu mempunyai kekuatan yang amat dahsyat mendorong orang islam untuk menggunakan dan mengembangkan akalnya. Hasilnya, seperti dapat dilihat dalam sejarah, ialah berkembangnya pengetahuan rasional (filsafat) dan sains dalam islam. Filsafat yunani (dan sains yunani) banyak mempengaruhi perkembangan filsafat dan sains salam islam. Filsafat dan sains yunani mulai bekembang sejak kurang-lebih tahun 600 SM. Pada masa aristoteles (384-322 SM), jadi hanya kira-kira 300 tahun sejak thales, filsafat dan sains yunani sudah berkembang pesat, baik obyek bahasan maupun kedalamannya. Islam lahir pada tahun  600-an. Filsafat dalam islam berkembang secara intensif sejak tahun 800-an.

Masuknya filsafat dan sains yunani ke dalam islam lebih banyak terjadi melalui irak dibandingkan dengan melalui daerah-daerah lain. Disanalah timbulnya gerakan penerjemahan karya-karya yunani ke dalam bahasa arab, atas dorongan khalifah Al-Manshur, kemudian khalifah Harun Ar-Rasyid, dilanjutkan oleh puteranya, khalifah Al-Ma’mun. Ba’it al-Hikmah didirikannya. Selain sebagi pusat penerjemah, masjid juga sebagai pusat pengembangan filsafat dan sains yang ditinggalkan oleh yunani tadi. Selain buku-buku yunani, buku persia dan India juga diterjemahkan kedalam bahasa arab.

Dari India terutama diambil astronomi dan matematika, dari persia diambil sastra dan seni. Gerakan penerjemahan ini terjadi dari tahun 750 samapi tahun 900 M. Inilah riwayat singkat masuknya filsafat dan sains yunani (dan india serta parsi sedikit) ke dalam islam. Oleh karena itu, dapatlah dipahami mengapa filsafat dengan beberapa cabangnya, dengan cepat berkembang di dalam masyarakat Islam. Dalam pengembangan sains dan filsafat itu, jasa orang islam sekurang-kurangnya ada tiga : (1) menerjemahkan, (2) Membuat komentar sehingga karya yunani itu lebih mudah dipahami, dan (3) menambahkan beberapa hal baru, termasuk koreksi-koreksi.

Karya-karya itu tersebar ke Barat melalui berbagai jalur. Jalur yang paling utama ialah Cordova. Selain itu, melalui Sisilia pengetahuan itu meyeberang juga ke Barat. Jika orang mengatakan orang barat dapat maju karena berhutang pada Islam, pernyataan itu tidaklah semuanya benar. Yang benar ialah orang barat berhutang pada orang yunani dan juga kepada orang Islam, sebenarnya juga pada orang india dan parsi.

Al-Qur’an menghargai akal. Dari dorongan ini berkembanglah filsafat dan sains Islami yang kelak diteruskan ke Barat. Selain itu Al-Qur’an juga menghargai rasa atau hati. Ayat-ayat Al-Qur’an banyak juga yang tidak dapat dipahami dengan akal; yang hanya mungkin dipahami dengan rasa. Oleh karena itu, pengetahuan yang berbasis rasa cukup berkembang  masyarakat Islam yang ini disebut jalur rasa, jalur tashawwuf.

Sehingga berdasar pada uraian tadi mengenai akal dan hati di jalur barat, telah dijelaskan dengan melihat Al-Ghazali itu membuktikan bahwa dominasi akal yang tidak seimbang dengan dominasi hati akan merugikan Islam dan umat Islam, demikian juga dominasi hati yang tidak seimbang dengan dominasi akal. Keseimbangan pikir dan dzikir, dapat dilakukan dalam Islam. Penyeimbangan seperti itu tampaknya tidak dapat dilaukan di dunia Barat kristen. Bukti yang jelas ialah perlunya sekuralisme di Barat. Ini membuktikan tak mungkinnya keseimbangan dominasi itu dilakukan.

Dalam hal ini terdapat kesamaan dengan kritik kant dimana mengemukakan bahwa akal dan hati haruslah seimbang, tidak ada satu yang saling mendominasi. Seperti yang telah dijelaskan oleh kan hanya akal budi praktis sajalah yang mampu menyentuh daerah noumena sehingga perlu adanya keteraturan, keseimbangan antara akal, dan hati karena antara keduanya saling melengkapi. Begitu yang telah dikemukakan pada akal dan hati di jalur timur ini harus terdapat kesesuaian antara akal dan hati. Tidak dapat salah satunya mendominasi karena akan menghasilkan kehancuran bagi umat islam. Karena hakikatnya al-qur’an sendiri menghargai akal bukan hanya sebatas pada hati semata atau lebih mengunggulkan hati.

Setelah membaca keduanya, saya kemudian lebih berpihak terhadap pemikiran kant dan jalur timur ini karena pada dasarnya manusia sejak lahir memiliki kata hati dan telah terlahir dengan memiliki hati. Dimana suara hati ini ialah suara yang selalu mengajak menjadi orang yang baik. Dan dalam dunia ini khususnya kehidupan ini kebaikan kemudian menjadi suatu nilai yang dielukan ataupun didambakan oleh sebagian masyarakat karena mampu membawa kehidupan kearah kedamaian dan mendekatkan kepada tuhan sebagai puncak dari segala kebaikan yang ada. Dan kemudian dengan adanya hati juga maka akan timbul moral yang merupakan aturan berbuat yang muncul setelah manusia itu bergaul dengan masyarakat atau telah mengalami interaksi maupun sosialiasi dengan yang lainnya. Sehingga kemudian moral ini dibentuk oleh pengaruh lingkungan.

Sumber : asiyahtyas.blogspot.com


KOMENTAR