Sabtu, 21 September 2019 10:43 WIB

INSPIRASI DAN UNIK

Jujur itu Kekuatan: 3 Contoh Kebohongan Kita Pada Diri Sendiri.

Beno - jurnalpatrolinews
Jujur itu Kekuatan: 3 Contoh Kebohongan Kita Pada Diri Sendiri. Foto : Hidung Pinokio memanjang ketika berbohong kepada peri biru. source: http://bit.ly/2E5pd89

Masih ingat caranya jujur?

Sejak kecil kebanyakan dari kita selalu diajarkan kejujuran. Orang tua kita akan paling marah kalau tahu kita berbohong, dan nasehat pun mengikuti:

“Kamu tuh jangan berani bohong sama orang tua ya!”

Dan kita mengikuti nasehat tersebut. Takut kalau misal ketahuan nanti dimarahi lagi sama orang tua. Tapi toh kita juga tetap sedikit berbohong di sana sini. Dengan berbohong, kita bisa lebih mudah untuk dapat apa yang kita mau. Lagipula kalau gak ketauan kan gapapa?

Menginjak masa remaja, kita diajarkan oleh guru — guru kita untuk tetap jujur. Salah satunya ketika berurusan dengan ujian. Setiap lembar ujian pasti ada tulisan di atasnya: “Jangan Mencontek”. Bahkan kadang ada kolom untuk tanda tangan, untuk pernyataan kalau kita tidak mencontek.

Tapi toh kadang kita juga tetap saja mencontek sedikit di sana sini. Teman — teman yang lain juga mencontek, dan kalau kita melarang — larang nanti malah dijauhi mereka. Yasudah sekalian saja kita ikut, nanti dikira tidak setia kawan. Lagipula ini kan cuma ujian kertas, nyontek sedikit nggak apa apa lah ya?

Menginjak masa kuliah, kita diajarkan untuk jangan plagiat pekerjaan orang lain. Dosen dan asisten akan paling murka kalau — kalau kita ketahuan menjiplak kerjaan orang. Biasanya kalau ada yang ketahuan laporan praktikumnya hasil jiplakan, kertasnya akan dipajang di depan ruangan praktikum (dengan semua identitasnya ditutupi).

Tapi toh kadang kita tetap saja jiplak beberapa bagian dari laporan teman kita, secara sewajarnya agar tidak ketahuan. Kalau harus mengerjakan semuanya sendiri terlalu banyak waktu yang terbuang. Lagipula dosen dan asisten juga gak akan baca semua laporannya kan?

Kita semua bisa setuju kalau kejujuran itu salah satu prinsip hidup yang paling penting. Tapi seringkali kita lupa. Kadang — kadang kita mengesampingkan sedikit prinsip itu, untuk melakukan kebohongan — kebohongan kecil yang kita anggap tidak apa — apa kalau dilakukan.

Kebohongan — kebohongan yang kecil, yang kita anggap sepele. Bisa sih, dibilang sepele.

Tapi karena dilakukan terus-menerus, dia jadi kebiasaan. Dan seperti kebiasaan pada umumnya, secara tidak sadar dia akan membentuk cara kita berpikir.

Lama kelamaan dia akan merambat pada setiap aspek dari diri kita, sampai pada akhirnya dia mempengaruhi pikiran internal kita. Ketika ini terjadi, kita akan mulai tidak jujur kepada diri sendiri.

Lalu kenapa kalau kita tidak jujur dengan diri sendiri?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, coba kita lihat beberapa contoh ketidakjujuran pada diri sendiri:

(1) Kita mulai mengatakan sesuatu yang tidak datang dari diri sendiri

Apa maksudnya? Bukannya sesuatu yang baru hanya bisa didapat dari sumber luar?

Iya, tentunya banyak hal baru yang bisa didapat dari sumber luar. Tapi kita harus bertanya terlebih dahulu apakah hal tersebut benar — benar sesuai dengan diri kita. Kalau tidak, kita bisa menjadi “percaya palsu” terhadap hal yang belum kita yakini.

Ketika suatu saat kita menyadari ada beberapa bagian dari diri kita yang, setelah berpikir dalam, ternyata kita yakini sebagai salah, kita akan mencoba membuangnya. Proses ini tidak mudah, dan bisa terasa tidak nyaman. Lebih baik jujur di awal daripada harus membuangnya di akhir.

Misal, seberapa banyak orang yang sudah mencapai sebuah tujuan, hanya untuk menyadari kalau ternyata apa yang mereka kejar bukanlah yang sebenarnya mereka inginkan? Mereka tidak mempertanyakan apakah yang mereka kejar datang dari diri mereka sendiri, atau dari mimpi orang lain untuk mereka.

Kita harus cukup jujur untuk menyadari mana perkataan yang datang dari diri kita sendiri dan mana yang merupakan perkataan orang lain. Kemudian membiasakan hanya mengatakan apa yang datang dari diri sendiri.

(2) Kita terlalu mengesampingkan sesuatu yang datang dari luar

Loh ini kan kebalikan dari poin sebelumnya?

Yep. Kadang yang kebalikan dari poin di atas bisa terjadi.

Ada beberapa hal dari luar yang mungkin langsung kita kesampingkan karena sekilas merasa hal tersebut tidak sesuai dengan kita. Tapi kemudian suatu hari kita menyadari kalau kita sebenarnya setuju kepada hal tersebut, dan selama ini kita hanya menghindari untuk tidak mau percaya pada hal itu.

Contoh. Suatu hari kita mulai merokok. Orang — orang dekat kita mulai cemas dan menyarankan kita untuk berhenti. Kita merasa diserang oleh perkataan mereka. Marah karena kita merasa kalau mereka menganggap diri mereka lebih baik daripada kita, makanya mereka bisa menyuruh — nyuruh kita. Akhirnya karena amarah, kita hanya mengabaikan perkataan mereka.

Padahal kalau dilihat lebih dekat, mereka cuma cemas kepada kita. Kita harus cukup jujur untuk bisa melihat intensi baik mereka, dan benar — benar mempertimbangkan perkataan mereka.

(3) Kita banyak menyalahkan faktor luar untuk apa yang terjadi pada diri kita

Mungkin kita mulai merasa banyak tersinggung oleh faktor luar, dan kemudian menyalahkannya untuk perasaan kita. Faktor luar tentunya akan mempengaruhi perasaan kita, terutama bila melewati batas. Tapi untuk faktor luar yang masih dalam batas wajar, bukankah lebih baik kalau kita jujur melihat diri sendiri dan mencoba memperbaiki diri kita untuk bisa bertahan terhadap hal tersebut, daripada terus menyalahkan faktor luar yang tidak bisa diubah?

Masih ada banyak contoh untuk ketidakjujuran, yang tidak muat ditulis disini. Mungkin kita bisa akhiri dengan menjawab pertanyaan sebelumnya, kalau misal belum terjawab sendiri.

Memangnya kenapa kalau kita tidak jujur dengan diri sendiri?

Ada satu hal yang sama dari ketiga contoh di atas. Kalau kita terus melakukannya, kita akan semakin berjalan ke arah yang salah, ke arah yang sebenarnya kita tidak percayai.

Semakin jauh kita berjalan ke arah sana, semakin diri kita akan dipenuhi dengan kebohongan. Di saat diri kita penuh dengan kebohongan, dan ketika ada krisis dimana kita hanya bisa bertanya kepada diri sendiri, kita tidak akan bisa menerima jawaban yang kita berikan.

Karena kita tidak bisa yakin apakah jawabannya bukan merupakan kebohongan juga.

“Above all, don’t lie to yourself. The man who lies to himself and listens to his own lie comes to a point that he cannot distinguish the truth within him, or around him, and so loses all respect for himself and for others. And having no respect he ceases to love.” — Fyodor Dostoevsky

 

[Medium]


Berita Terkait
KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : ekawdy77ads@gmail.com
Media Partner : ekawdy77ads@gmail.com
Iklan : jurnalpatroli2016@gmail.com, WA 081318185028