JURNALPATROLINEWS – Anak yang tantrum seringkali membuat orangtua kesulitan menghadapinya. Kondisi tantrum ini sangat mudah ditemui dan menjadi permasalahan bagi orangtua dalam mengasuh anak.

Perlu dipahami, tantrum merupakan kondisi ledakan emosi seseorang yang ditandai dengan sikap keras kepala, menjerit hingga menangis. Biasanya, tantrum dialami oleh anak yang berusia 2-3 tahun.

"Tantrum terjadi saat anak tidak tahu cara komunikasikan apa yang dia mau utarakan atau saat apa yang dia mau tidak terpenuhi, maka dia bisa ngamuk. Tapi, jangan karena anak ngamuk, lalu semua keinginannya dipenuhi," ujar dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang RSPI, dr Catharine Sambo Sp.A(K), dalam acara media RSPI, di kawasan Senopati, Jakarta.

Menurut Catharine, bila orangtua terlalu sering memenuhi keinginan anak seusai anak tantrum, ini akan menjadi 'senjata' bagi anak untuk meminta hal lain di kemudian hari. Anak akan memahami bahwa dengan menangis, membuatnya bisa mendapatkan keinginannya.

"Anak akan learn behavior bahwa dengan cara ini, keinginan dia pasti akan dikasih. Maka, ketika anak tantrum, tugas orangtua perlu fasilitas bagaimana cara anak bisa menenangkan diri," paparnya.

Ia melanjutkan, cara anak menenangkan diri tersebut bisa dilakukan dengan membawa anak pergi dari keramaian. Sebab, semakin banyak perhatian dari orang lain yang ia dapatkan dari sikap tantrumnya itu, semakin sulit anak menghentikan tantrum.

"Setelah diajak ke tempat sepi, biarkan anak tenang dengan sendirinya. Setelah anak tenang, ajak anak komunikasi seperti apa yang ia ingin utarakan atau beri alasan mengapa Anda tidak memberikannya hal yang dia inginkan," jelasnya.

(YN)


Berita Terkait
KOMENTAR