JurnalPatroliNews | Jakarta – Keputusan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) membuka status keanggotaannya di Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memunculkan berbagai spekulasi mengenai arah politiknya ke depan.
Jokowi mengungkap secara terbuka bahwa dirinya telah menjadi bagian dari PSI sejak 14 Oktober 2025. Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD PSI Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (26/9/2026), sekaligus dengan memperlihatkan Kartu Tanda Anggota (KTA) miliknya.
Langkah tersebut kemudian dibaca pengamat politik Hendri Satrio sebagai bagian dari upaya Jokowi membangun jalur politik baru. Namun, Hendri belum melihat keputusan tersebut sebagai bukti bahwa Jokowi telah berpisah jalan dengan Presiden Prabowo Subianto.
“Apakah kemudian ini tandanya dia pisah jalan dengan Prabowo? Saya tidak ingin mengatakan pisah jalan, tapi dia sedang membangun jalannya sendiri, jalannya yang baru,” kata Hendri Satrio dalam tayangan kanal YouTube Hendri Satrio Official, Rabu (30/9/2026).
Jokowi Dinilai Sedang Membangun Kekuatan Baru
Hendri, yang akrab disapa Hensa, menilai momentum pengungkapan keanggotaan Jokowi di PSI memiliki arti politik tersendiri.
Menurut dia, keputusan tersebut perlu dilihat bersamaan dengan dinamika politik nasional, termasuk pembahasan mengenai ambang batas parlemen atau parliamentary threshold untuk Pemilu 2029.
Hendri menduga Jokowi tengah berupaya memastikan dirinya tetap memiliki ruang dan kendaraan politik di tengah perubahan konfigurasi kekuatan politik.
“Kenapa Pak Jokowi kemudian mengumumkan September 2026 ini bahwa dia menjadi bagian dari PSI? Ini karena dia merasa terisolasi. Menurut catatan saya, dia merasa terisolasi, ditinggalkan,” ujar Hendri.
Pernyataan tersebut merupakan penilaian Hendri terhadap situasi politik yang dihadapinya, bukan pernyataan Jokowi mengenai alasan dirinya bergabung atau mengumumkan keanggotaan di PSI.
PSI dan Isu Parliamentary Threshold
Di sisi lain, isu ambang batas parlemen memang tengah menjadi bagian dari pembahasan politik menjelang Pemilu 2029.
Sekjen PSI Raja Juli Antoni sebelumnya menyatakan partainya siap menghadapi berapa pun besaran parliamentary threshold yang nantinya diputuskan. Ia juga menyebut keberadaan Jokowi menjadi salah satu faktor yang memperkuat kepercayaan diri PSI menghadapi Pemilu 2029.
Sementara itu, Jokowi sendiri dalam pertemuan dengan kader PSI di Bandung menyatakan tidak mempermasalahkan apabila ambang batas parlemen ditetapkan pada angka 5, 6, 7, bahkan 8 persen. Ia menekankan pentingnya kerja organisasi dan aktivitas struktur partai.
Konteks tersebut membuat langkah Jokowi bersama PSI tidak hanya dilihat sebagai persoalan keanggotaan partai, tetapi juga berkaitan dengan persiapan konfigurasi politik menuju Pemilu 2029.
Bukan Sekadar Pindah Kendaraan Politik
Hendri melihat pengungkapan keanggotaan Jokowi sebagai sinyal bahwa PSI ingin diperhitungkan sebagai kekuatan politik.
Menurut dia, Jokowi melalui langkah tersebut seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki basis dan kendaraan politik yang dapat digunakan untuk membangun kekuatan baru.
“Dia merasa ingin dilihat sebagai kekuatan baru yang tidak bisa dianggap remeh. Oke, lu bisa mengisolasi gue, tidak ikutan bicarakan threshold, tapi jangan meremehkan saya. Saya punya kendaraan, dan ini bisa jadi kekuatan baru,” tuturnya.
Penilaian tersebut sejalan dengan perkembangan internal PSI. Partai itu telah memastikan Jokowi akan dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Pembina PSI pada November 2026, bertepatan dengan agenda Rapimnas dan HUT PSI yang direncanakan berlangsung di Surabaya.
Dengan demikian, posisi Jokowi di PSI berpotensi menjadi lebih formal dan strategis dibanding sekadar status sebagai anggota.
Apakah Berarti Berpisah dengan Prabowo?
Pertanyaan mengenai hubungan politik Jokowi dan Prabowo tetap menjadi bagian dari spekulasi setelah Jokowi secara terbuka menunjukkan kedekatannya dengan PSI.
Namun, berdasarkan penilaian Hendri Satrio, langkah tersebut belum cukup untuk disebut sebagai tanda bahwa Jokowi telah mengambil posisi berseberangan dengan Prabowo.
Hendri lebih melihatnya sebagai upaya membangun jalur politik tersendiri.
“Dengan Pak Jokowi mengumumkan dia menjadi anggota PSI, maka dia mengumumkan bahwa jangan remehkan kekuatan baru ini, dan ini adalah kekuatan baru yang siap menandingi kekuatan-kekuatan politik yang sudah ada,” pungkas Hendri.
Pada akhirnya, arah hubungan politik Jokowi dengan pemerintahan Prabowo maupun kekuatan politik lainnya masih akan ditentukan oleh perkembangan politik berikutnya. Yang telah terlihat secara faktual adalah Jokowi secara terbuka mengonfirmasi keanggotaannya di PSI, sementara partai tersebut juga telah menyatakan rencana menempatkannya sebagai Ketua Dewan Pembina.














Komentar