NasionalTren

Pak Mahfud Oh Pak Mahfud, Yang Lain Sibuk di Lapangan, Eh Dia Asyik-asyikan Nonton Sinetron

Avatar
×

Pak Mahfud Oh Pak Mahfud, Yang Lain Sibuk di Lapangan, Eh Dia Asyik-asyikan Nonton Sinetron

Sebarkan artikel ini
Kredit Foto: Instagram/Mahfud MD

JurnalPatroliNews Jakarta –  Politisi Partai Gerindra Fadli Zon ikut menyoroti pengakuan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD yang tengah asyik menonton sinetron Ikatan Cinta disaat PPKM Darurat.

Menurut Fadli Zon, kinerja para menteri Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak berimbang. Sebab, ada pihak-pihak yang berjibaki di lapangan, dan ada yang asyik menonton sinetron di rumah.

JPN - advertising column


Example 300x600
JPN - advertising column

“Inilah kalau komando pengendalian Covid tidak langsung dipimpin Presiden. Ada yang sibuk, berjibaku di lapangan, ada yang asyik nonton sinetron Ikatan Cinta,” cuitnya, dalam akun Twitternya, Jumat (16/7/2021).

Karena hal tersebut, ia meminta Presiden Jokowi untuk segera menangani pandemi virus corona di Tanah Air.

“Saran saya Pak @jokowi ambil alih kepemimpinan penanganan darurat Covid. Semua menteri ada tanggung jawab masing-masing,” usulnya.

Terakhit, Fadli Zon pun memberikan sindiran kepada Mahfud MD dengan mengucapkan selamat menonton kembali.

“Selamat nonton Pak,” tukasnya.

Diketahui sebelumnya, Menko Polhukam Mahfud MD mengungkap dirinya tengah gemar menonton sinetron Ikatan Cinta di tengah PPKM Darurat.

Bahkan, menurut  pengakuannya, dirinya pun sempat membeirkan kritik soal hukum pidana di dalam sinetron tersebut.

“PPKM memberi kesempatan kepada saya nonton serial sinetron Ikatan Cinta. Asyik juga sih, meski agak muter-muter,” cuitnya, dalam akun Twitternya @mohmahfudmd, Kamis (15/7).

Namun, ia menilai jika penulis kurang pas dalam memahami hukum pidana.

Kemudian, ia membeberkan jika jalan ceritanya langsung ditahan setelah mengaku dan meminta dihukum lantaran membunuh Roy.

Padahal dalam hukum pidana, pengakuan seseorang itu bukan sebuah bukti yang kuat.

“Kalau begitu nanti banyak orang berbuat jahat lalu menyuruh (membayar) orang untuk mengaku sehingga pelaku yang sebenarnya bebas,” jelasnya.

Penulis: WartaEkonomiEditor: Muhammad Arya Putra Dendadi