JurnalPatroliNews | Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mengarahkan pengembangan sejumlah kawasan strategis nasional, mulai dari pembangunan museum berskala besar di kawasan Monumen Nasional (Monas), revitalisasi Stasiun Gambir, hingga pengembangan jaringan transportasi kereta api di Bali.
Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat infrastruktur publik sekaligus mengembangkan destinasi pendidikan, kebudayaan, pariwisata, dan rekreasi masyarakat.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan, salah satu arahan Presiden adalah pembangunan Museum Agung Nasional atau Grand National Museum di kawasan Monas, Jakarta.
Rencana tersebut disampaikan melalui unggahan akun Instagram resmi @sekretariat.kabinet yang dikutip pada Jumat (6/11/2026).
“Pembangunan Museum Agung Nasional atau Grand National Museum di kawasan Monas,” ungkap Teddy.
Arahan tersebut disampaikan Prabowo ketika memanggil Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Prabowo menginginkan Indonesia memiliki museum dengan skala lebih besar setelah proses revitalisasi Galeri Nasional dan Museum Gajah rampung.
Museum tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi sejarah dan kebudayaan, tetapi juga berkembang sebagai pusat pembelajaran, hiburan, dan rekreasi keluarga.
Kehadiran fasilitas berskala nasional itu diharapkan mampu memperluas akses masyarakat terhadap sejarah perjalanan bangsa sekaligus menjadi ruang edukasi bagi pelajar dan generasi muda.
Stasiun Gambir Diarahkan Menjadi Pusat Transportasi dan Wisata
Selain pengembangan museum, Prabowo juga memberikan perhatian terhadap revitalisasi Stasiun Gambir yang telah beroperasi sejak dekade 1970-an.
Pemerintah menginginkan stasiun tersebut mengalami pembenahan menyeluruh agar mampu menjalankan fungsi lebih luas, bukan hanya sebagai simpul keberangkatan dan kedatangan kereta api.
Menurut Teddy, Stasiun Gambir diarahkan menjadi pusat stasiun nasional yang terintegrasi dengan kawasan hiburan, wisata, serta rekreasi keluarga di pusat Ibu Kota.
“Stasiun Gambir diharapkan bisa menjadi pusat stasiun nasional sekaligus kawasan hiburan, wisata, dan rekreasi keluarga di jantung Ibu Kota,” jelas Teddy.
Pengembangan tersebut berpotensi mengubah wajah kawasan Gambir menjadi ruang publik yang lebih terintegrasi dengan aktivitas transportasi, ekonomi, dan pariwisata perkotaan.
Kereta Api Bali Masuk Agenda Pengembangan Transportasi
Pembahasan di Istana Merdeka juga mencakup rencana pembangunan layanan kereta api di Provinsi Bali.
Pada tahap awal, jalur transportasi tersebut direncanakan menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan sejumlah kawasan wisata utama.
Rute awal yang direncanakan mencakup Kuta, Legian, Seminyak, hingga Canggu, serta pengembangan konektivitas menuju kawasan di wilayah utara Bali.
“Pada tahap awal, jalur tersebut direncanakan menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan sejumlah kawasan wisata, mulai dari Kuta, Legian, Seminyak, hingga Canggu, serta kawasan di wilayah utara,” ungkap Teddy.
Rencana tersebut diarahkan untuk memperkuat konektivitas transportasi bagi wisatawan sekaligus memberikan alternatif mobilitas di tengah tingginya aktivitas pariwisata Bali.
Apabila terealisasi, layanan kereta api diharapkan dapat mendukung perjalanan masyarakat dan wisatawan dari bandara menuju pusat-pusat kegiatan pariwisata.
Tiga Agenda dalam Satu Arah Pembangunan
Rencana pembangunan Grand National Museum, revitalisasi Stasiun Gambir, dan pengembangan kereta api Bali memperlihatkan perhatian pemerintah terhadap pengembangan fasilitas publik dengan fungsi yang lebih luas.
Di Jakarta, pengembangan museum diarahkan untuk memperkuat identitas sejarah dan kebudayaan nasional. Sementara revitalisasi Gambir ditujukan untuk mengintegrasikan transportasi dengan aktivitas wisata dan rekreasi.
Adapun di Bali, pengembangan jaringan kereta api diarahkan untuk memperbaiki konektivitas kawasan pariwisata.
Meski demikian, ketiga agenda tersebut masih membutuhkan tahapan perencanaan, kajian teknis, pembiayaan, serta koordinasi antarlembaga sebelum memasuki tahap pembangunan.
Masyarakat kini menantikan bagaimana arahan Presiden tersebut diterjemahkan menjadi proyek konkret yang dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi pendidikan, transportasi, pariwisata, dan kualitas ruang publik Indonesia.














Komentar