Simpan Emas di Singapura Makin Diminati, Jumlahnya Tembus 800 Ton

JurnalPatroliNews – Jakarta – Simpan emas di Singapura kini menjadi pilihan sebagian keluarga kaya dan investor global yang ingin mengamankan aset di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Investor dari Amerika Serikat, Eropa, hingga Timur Tengah semakin melirik negara kota tersebut sebagai lokasi penyimpanan emas fisik untuk jangka panjang.

Berdasarkan estimasi pedagang logam mulia J. Rotbart & Co. yang dikutip dalam laporan Bloomberg, kepemilikan emas privat di Singapura meningkat sekitar 16 kali lipat sejak 2014. Jumlahnya diperkirakan melampaui 800 ton pada 2025, dengan sebagian besar emas yang masuk berasal dari Eropa.

Permintaan penyimpanan diperkirakan berlanjut sepanjang 2026 hingga 2027. Perlu dicatat, angka tersebut merupakan estimasi kepemilikan emas privat, bukan cadangan emas resmi pemerintah Singapura.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa pertimbangan investor tidak hanya berkaitan dengan harga emas. Lokasi penyimpanan, keamanan, stabilitas negara, dan kepastian hukum juga menjadi bagian dari strategi pengelolaan kekayaan mereka.

Fasilitas Penyimpanan Emas Semakin Padat

Meningkatnya minat untuk simpan emas di Singapura turut mendorong kebutuhan terhadap fasilitas penyimpanan berkeamanan tinggi. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Le Freeport, tempat penyimpanan barang bernilai tinggi yang kerap dijuluki Fort Knox of Asia.

Fasilitas tersebut dilaporkan mempunyai kapasitas penyimpanan sedikitnya 1.700 ton emas. Namun, pada Mei lalu, pengelolanya menyatakan sebagian besar brankas bawah tanah telah terisi akibat meningkatnya permintaan.

Kondisi ini memperlihatkan pentingnya infrastruktur penyimpanan bagi investor yang memiliki emas fisik dalam jumlah besar. Selain kapasitas, pemilik aset juga mempertimbangkan sistem keamanan, asuransi, biaya penitipan, dokumentasi kepemilikan, dan kemudahan mengakses aset ketika dibutuhkan.

Investor Asing Menambah Simpanan

Tren serupa terlihat di The Reserve, penyedia fasilitas penyimpanan logam mulia di Singapura. Hingga September 2026, fasilitas tersebut dilaporkan menyimpan sekitar 8,6 ton emas milik nasabah. Jumlah itu meningkat tiga kali lipat dibandingkan awal 2020.

Sekitar 90 persen emas yang disimpan di sana disebut merupakan milik klien asing. Angka ini mencerminkan besarnya kontribusi investor internasional terhadap pertumbuhan industri penitipan logam mulia di negara tersebut.

Co-founder Farro Capital, Manish Tibrewal, mengatakan perpindahan emas melibatkan keluarga kaya yang telah lama memiliki logam mulia fisik sekaligus investor baru yang mulai memasukkan emas ke dalam portofolio mereka.

Sebagian keluarga memindahkan emas yang sebelumnya disimpan di luar Singapura. Sementara itu, investor lain membeli emas melalui bank swasta atau pedagang logam mulia, lalu memilih menyimpannya di negara tersebut.

Ketidakpastian Global Mendorong Diversifikasi

Kekhawatiran terhadap defisit fiskal Amerika Serikat, situasi politik internasional, inflasi, risiko geopolitik, serta prospek suku bunga jangka panjang menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan investor.

Emas kerap digunakan sebagai instrumen diversifikasi portofolio karena sebagian investor menilainya dapat membantu menyebarkan risiko investasi. Namun, harga logam mulia tetap mengalami fluktuasi dan dapat turun seiring perubahan suku bunga, nilai dolar AS, permintaan, serta sentimen pasar.

Karena itu, peningkatan kebutuhan fasilitas penyimpanan tidak otomatis berarti harga emas akan terus naik. Tren tersebut juga mencerminkan perhatian investor terhadap keamanan lokasi dan cara menjaga kekayaan dalam jangka panjang.

Pendiri The Reserve, Gregor Gregersen, menilai Singapura menawarkan stabilitas yang menarik bagi investor yang berencana menyimpan emas selama puluhan tahun. Faktor keamanan dan kondisi kelembagaan negara menjadi pertimbangan bagi pemilik aset yang mengutamakan penyimpanan jangka panjang.

Eropa dan Amerika Melirik Singapura

J. Rotbart & Co. melaporkan pertanyaan daring dari calon klien Barat meningkat sekitar tiga kali lipat dalam setahun terakhir. Amerika Serikat menjadi sumber pertanyaan terbesar, diikuti Kanada, Inggris, dan Australia.

Sementara itu, platform logam mulia Gold menyebut sekitar 40 persen kliennya dari Eropa telah memindahkan sebagian emas yang sebelumnya disimpan di Swiss ke Singapura atau memilih Singapura sebagai lokasi penitipan untuk pembelian emas baru.

Perubahan tersebut tidak berarti Swiss kehilangan perannya sebagai pusat penyimpanan emas. Namun, sebagian investor mulai mempertimbangkan penyebaran lokasi penyimpanan ke beberapa negara agar aset fisik mereka tidak terkonsentrasi pada satu yurisdiksi.

Strategi tersebut perlu dibedakan dari diversifikasi jenis investasi. Menyimpan emas di dua negara dapat menyebarkan risiko lokasi, tetapi tidak menghilangkan risiko penurunan harga emas di pasar global.

Singapura Perkuat Infrastruktur Perdagangan Emas

Singapura turut mengembangkan ekosistem perdagangan dan penyimpanan logam mulia melalui infrastruktur transaksi, layanan penitipan bagi lembaga keuangan, serta insentif bagi dana dan kantor keluarga yang memenuhi ketentuan investasi terkait emas fisik.

Ekosistem jasa keuangan yang berkembang menjadi salah satu daya tarik negara tersebut. Bank swasta, pedagang logam mulia, pengelola kekayaan, dan penyedia fasilitas penyimpanan memberi investor pilihan layanan untuk membeli serta menyimpan emas.

Bagi Singapura, meningkatnya permintaan membuka peluang bagi sektor jasa keuangan dan industri logam mulia. Namun, pertumbuhan tersebut juga membutuhkan standar keamanan, kepatuhan terhadap peraturan, transparansi kepemilikan, dan perlindungan nasabah yang memadai.

Pada akhirnya, tren simpan emas di Singapura mencerminkan perubahan strategi sebagian investor kaya dalam menghadapi ketidakpastian global. Kepemilikan emas privat yang diperkirakan melampaui 800 ton pada 2025 memperkuat posisi Singapura sebagai salah satu tujuan penyimpanan logam mulia di Asia.

Meski demikian, keputusan memindahkan emas perlu mempertimbangkan biaya penyimpanan, keamanan fasilitas, ketentuan hukum, akses terhadap aset, dan tujuan investasi. Menyimpan emas dengan aman dan memperoleh keuntungan dari pergerakan harganya merupakan dua persoalan berbeda yang perlu dinilai secara terpisah.

Komentar