144 Pesilat Muda Adu Jurus di Setu Babakan, Piala Wali Kota Jaksel Jadi Panggung Regenerasi

JurnalPatroliNews | Jakarta — Setu Babakan, Jakarta Selatan, kembali menjadi ruang perjumpaan antara olahraga, tradisi, dan kebudayaan. Sebanyak 144 pesilat muda dari sejumlah perguruan pencak silat binaan IPSI Jakarta Selatan ambil bagian dalam Kejuaraan Pencak Silat Piala Wali Kota Jakarta Selatan yang berlangsung selama dua hari, 25–26 September 2026.

Kejuaraan tersebut tidak sekadar menjadi arena adu kemampuan di atas matras. Dari Setu Babakan, pencak silat ditampilkan sebagai bagian dari upaya membangun regenerasi atlet sekaligus menjaga warisan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.

Pembukaan kejuaraan berlangsung dalam nuansa khas Betawi. Iringan musik tradisional dan pantun Betawi mengiringi rangkaian acara, disusul atraksi pencak silat yang diperagakan generasi muda.

Perwakilan Wali Kota Jakarta Selatan, jajaran kecamatan dan lurah se-Kecamatan Jagakarsa turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Ketua Panitia Kejuaraan, Safii Jayadi, S.E., mengatakan kompetisi tahun ini mempertandingkan sejumlah kategori, mulai dari perorangan, berpasangan hingga kelompok.

Menurutnya, ajang tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi lahirnya pesilat-pesilat muda yang nantinya dapat membawa nama Jakarta Selatan dalam kompetisi di tingkat provinsi, nasional hingga internasional.

“Kejuaraan ini terdiri dari beberapa kategori, di antaranya perorangan, berpasangan dan kelompok. Diharapkan akan muncul atlet-atlet muda berprestasi yang dapat mengikuti kejuaraan tingkat provinsi, nasional dan internasional,” ujar Safii.

Ia menilai kejuaraan tersebut juga memiliki dimensi kebudayaan yang tidak kalah penting. Pencak silat bukan hanya olahraga prestasi, tetapi bagian dari tradisi yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Ini menjadi momentum yang baik untuk melestarikan budaya dan tradisi nasional agar terus memiliki generasi penerus dan tetap lestari,” lanjutnya.

Bukan Sekadar Kompetisi

Pesan serupa disampaikan perwakilan Wali Kota Jakarta Selatan, Firmanudin Ibrahim. Ia menekankan bahwa pencak silat memiliki nilai-nilai yang lebih luas daripada sekadar kemampuan bertanding.

Menurutnya, pencak silat mengajarkan adab, keberanian, kejujuran, kedisiplinan serta penghormatan terhadap sesama.

Nilai-nilai tersebut dinilai penting untuk membentuk karakter generasi muda di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.

Prestasi yang diraih seorang pesilat, lanjutnya, bukan hanya membawa nama baik perguruan, tetapi juga dapat mengangkat nama daerah ketika tampil dalam kompetisi pada jenjang yang lebih tinggi.

Dengan demikian, kejuaraan pencak silat dapat menjadi salah satu sarana pembinaan generasi muda melalui kombinasi antara kemampuan olahraga dan pendidikan karakter.

Setu Babakan, Ketika Olahraga Bertemu Kebudayaan

Pemilihan Setu Babakan sebagai lokasi kejuaraan juga memberikan dimensi tersendiri.

Kawasan yang dikenal sebagai salah satu ruang pelestarian budaya Betawi di Jakarta tersebut menjadi latar bagi perhelatan olahraga tradisional yang memiliki akar kuat dalam kebudayaan Indonesia.

Di kawasan ini, nuansa Betawi tidak hanya terlihat melalui arsitektur dan lingkungan budaya, tetapi juga melalui aktivitas ekonomi masyarakat.

Ketika sebuah kegiatan berskala besar digelar, pelaku usaha kecil di sekitar kawasan mendapatkan peluang untuk menawarkan produk makanan, kerajinan, maupun berbagai produk khas Betawi kepada pengunjung.

Dari perspektif yang lebih luas, penyelenggaraan kegiatan olahraga dan kebudayaan di kawasan wisata dapat menciptakan efek berantai bagi masyarakat sekitar.

Atlet dan pendamping datang ke lokasi, penonton hadir, pelaku UMKM memperoleh calon konsumen, sementara kawasan wisata mendapatkan tambahan aktivitas ekonomi.

Karena itu, kejuaraan pencak silat di Setu Babakan dapat dibaca bukan hanya sebagai agenda olahraga, melainkan juga sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan dan ekonomi masyarakat.

Merawat Tradisi Lewat Generasi Muda

Pencak silat menghadapi tantangan yang sama dengan banyak tradisi lainnya: bagaimana memastikan warisan budaya tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu.

Jawabannya berada pada regenerasi.

Sebanyak 144 peserta yang mengikuti kejuaraan ini menjadi gambaran bahwa masih terdapat generasi muda yang memilih belajar, berlatih, bertanding dan mengembangkan kemampuan melalui pencak silat.

Dari ajang seperti inilah proses regenerasi berlangsung. Ada yang mengejar prestasi, ada yang membangun pengalaman bertanding, dan ada pula yang kelak meneruskan pengetahuan tersebut kepada generasi berikutnya.

Pada akhirnya, Piala Wali Kota Jakarta Selatan di Setu Babakan bukan hanya tentang siapa yang keluar sebagai juara. Lebih jauh, kejuaraan ini menjadi panggung untuk mempertemukan olahraga, pendidikan karakter, pelestarian budaya dan geliat ekonomi masyarakat.

Setu Babakan pun kembali menunjukkan bahwa ruang budaya dapat menjadi tempat tumbuhnya prestasi generasi muda sekaligus menghidupkan aktivitas masyarakat di sekitarnya.

Bagi pencak silat, kemenangan terbesar bukan hanya berada di atas matras, tetapi ketika tradisi tersebut tetap hidup dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Komentar