Ketika Amanah Kehilangan Nurani
Oleh: Budito — DR. Budi Suryanto, SH, MH, MSi
Ada sebuah negeri, bernama Nusantara,
Tanah yang dititipkan Ilahi dengan mahkota khatulistiwa.
Samudranya membentang tak bertepi, gunungnya menjulang menyentuh langit,
Hutannya permadani zamrud, tempat flora fauna bertasbih.
Namun di antara limpahan karunia yang tiada tara itu,
Masih terdengar lirih yang menggantung di langit biru:
Mengapa kepastian waktu dan biaya, menjadi barang langka yang begitu mahal harganya?
Waktu terus berlari, zaman silih berganti,
Menara-menara pencakar langit menjulang, teknologi melesat setinggi angkasa.
Namun dari lorong-lorong kota hingga pelosok desa nan sunyi,
Suara kegelisahan itu masih setia bergema.
Rakyat kami tidak pernah meminta singgasana istimewa,
Tidak pula menuntut percepatan yang melampaui wajarnya.
Mereka hanya memohon haknya ditunaikan,
Pelayanannya dimudahkan,
Kepastiannya dihadirkan,
Bukan dijadikan komoditas mahal yang hanya dapat dibeli oleh mereka yang berkecukupan.
Betapa sering harapan itu datang mengetuk pintu pelayanan,
Dengan berkas yang didekap, dengan doa yang dipanjatkan, dengan kesabaran yang diuji.
Mengurus selembar surat, menanti sepetak sertifikat,
Berharap urusan selesai tanpa belit, tanpa jerat, tanpa sesat.
Namun waktu seolah kehilangan maknanya,
Kepastian menjauh ke ujung cakrawala, penantian membentang tanpa tepi.
Di manakah kini kesederhanaan yang dulu dijanjikan atas nama pengabdian?
Mengapa urusan yang sejatinya adalah hak asasi warga,
Terasa bagai pengembaraan panjang yang menguras raga, menyayat jiwa,
Menggerus kepercayaan, memupus harapan?
Wahai para pemegang amanah, para punggawa negeri!
Jabatan itu bukanlah mahkota untuk meninggikan diri,
Bukanlah singgasana untuk bermegah-megah,
Bukan pula warisan yang dapat kau bagi kepada sanak keluarga.
Di balik meja tempat kalian bersemayam,
Ada titipan kepercayaan rakyat yang harus kau jaga dengan nyawa.
Di balik setiap tinta tanda tangan yang kau torehkan,
Ada nasib manusia yang menggantungkan masa depannya.
Ingatlah:
Kekuasaan yang hakiki bukanlah tentang seberapa tinggi seseorang berdiri di atas menara gading,
Melainkan tentang seberapa banyak kepentingan rakyat jelata yang mampu ia lindungi dengan sepenuh jiwa.
Namun ketika kewenangan bersekutu dengan keserakahan,
Ketika kepentingan pribadi mengangkangi tanggung jawab suci,
Maka amanah pun kehilangan kehormatannya,
Dan rakyat kecil kembali menjadi tumbal yang menanggung derita abadi.
Korupsi bukan sekadar angka-angka yang hilang dari lembaran pembukuan,
Ia adalah hak-hak masyarakat yang dirampas perlahan-lahan,
Keringat buruh yang dikhianati, harapan petani yang dikebiri.
Kolusi bukan sekadar persekongkolan di balik pintu yang terkunci,
Melainkan tertutupnya pintu keadilan bagi mereka yang layak, yang berhak, yang berjuang dengan jujur.
Nepotisme bukan sekadar kedekatan darah dan keluarga,
Melainkan ketidakadilan yang paling telanjang, ketika hubungan pribadi mengangkangi kompetensi, menginjak kepentingan bersama.
Karena itu, wahai para pengabdi punggawa negeri,
Jangan biarkan sumpah jabatan berhenti sebagai seremonial belaka.
Jangan biarkan kata integritas hanya menjadi hiasan bibir, dalih melayani,
Sementara praktik sehari-hari menjauh dari nilai-nilai hakiki.
Indonesia memiliki Komisi Pemberantasan Korupsi, memiliki perangkat hukum dan lembaga pengawasan.
Namun perjuangan melawan korupsi tidak dapat diserahkan kepada satu lembaga semata.
Ia membutuhkan keberanian untuk berkata benar di tengah kebatilan,
Ketegasan untuk menolak penyimpangan di tengah godaan,
Serta kesediaan untuk mempertanggungjawabkan setiap kewenangan di hadapan Ilahi.
Setiap rupiah dalam anggaran negara memiliki tanggung jawab yang tidak sederhana.
Di dalamnya ada peluh pekerja yang tak kenal lelah,
Ada doa petani yang menanti panen,
Ada perjuangan pedagang kecil yang bertaruh hidup,
Dan masa depan anak-anak bangsa yang menanti uluran keadilan.
Maka janganlah bebani rakyat dengan pungutan yang tak semestinya.
Jangan jadikan pelayanan sebagai transaksi tersembunyi yang penuh tipu muslihat.
Sebab negara hadir bukan untuk mempersulit warganya,
Melainkan untuk memastikan hak-hak mereka terlindungi, termuliakan.
Cukuplah rakyat menunggu tanpa kepastian.
Cukuplah keluhan berulang menjadi kebiasaan yang dibiarkan.
Yang dibutuhkan bukanlah rangkaian janji-janji manis,
Bukan pula kata-kata indah yang menguap setelah seremoni usai.
Rakyat membutuhkan tindakan nyata,
Pelayanan yang manusiawi yang menyentuh hati,
Dan keadilan yang dapat dirasakan tanpa harus membeli perhatian.
Wahai Nusantaraku, Tanahku…
Jangan biarkan air matamu menjadi pemandangan yang biasa.
Engkau terlalu kaya untuk membiarkan rakyat kehilangan harapan,
Terlalu besar untuk dikelola tanpa tanggung jawab,
Dan terlalu berharga untuk kehilangan pemimpin yang berintegritas dan berhati nurani.
Mari kita kembali kepada jati diri bangsa:
Mengabdi tanpa memperhamba rakyat,
Bekerja tanpa menjadikan jabatan sebagai ladang keuntungan pribadi,
Berinovasi tanpa melupakan kemanusiaan,
Dan memimpin tanpa kehilangan kerendahan hati.
Sebab jabatan hanyalah persinggahan sementara,
Kekuasaan hanyalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban,
Dan kemewahan tidak akan pernah menjadi ukuran terakhir dari nilai pengabdian seseorang.
Pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah berapa lama seseorang duduk di kursi kekuasaan,
Bukan pula berapa banyak penghormatan yang diterimanya,
Atau seberapa megah fasilitas yang mengelilinginya.
Yang akan tinggal abadi adalah jejak kebaikan yang pernah ditorehkan,
Keadilan yang pernah diperjuangkan dengan darah dan air mata,
Serta kepercayaan rakyat yang berhasil dijaga dengan segenap jiwa.
Bangkitlah, para pengabdi negeri!
Dengarkanlah suara-suara lirih dari desa-desa yang jauh di pelosok,
Dari ruang-ruang pelayanan yang penuh sesak oleh penantian,
Dari keluarga-keluarga sederhana yang menggantungkan masa depan pada hadirnya negara yang sungguh-sungguh melayani.
Bekerjalah dengan hati,
Berpeganglah pada kejujuran,
Dan tegakkanlah keadilan, meski jalan yang ditempuh tidak selalu mudah, meski badai menghadang.
Menangislah, Nusantaraku, jika nurani mulai tersisih oleh kepentingan.
Namun jangan pernah menyerah pada keadaan.
Sebab air mata bukanlah akhir dari perjuangan,
Melainkan pengingat suci bahwa masih ada yang harus diperbaiki, masih ada amanah yang harus ditunaikan.
Indonesia bukan milik segelintir orang.
Ia adalah rumah bersama,
Tempat setiap warga berhak mendapatkan keadilan, pelayanan, kesempatan, dan kehidupan yang bermartabat dan berkeadilan.
Jangan biarkan Tanah Nusantara terus menangis.
Pulihkan kepercayaan dengan kejujuran yang hakiki,
Tegakkan amanah dengan keberanian yang sejati,
Dan kembalikan kekuasaan kepada makna asalnya:
Mengabdi kepada rakyat, menjaga kehormatan bangsa, serta mempertanggungjawabkan setiap perbuatan di hadapan hukum, sejarah, dan Tuhan Yang Maha Esa.















Komentar