Dewan Adat Papua: Intan Jaya Bergejolak Setelah Pengerahan Pasukan TNI

  • Whatsapp
Warga di Intan Jaya saat menerima bantuan.

Jurnalpatrolinews – Jakarta : Dewan Adat Papua (DAP) mencatat, gejolak yang terjadi di Intan Jaya berawal dari pengerahan pasukan keamanan terutama TNI sejak awal tahun 2020, menggunakan helikopter dan jalan darat dari Kabupaten Paniai.

“Daerah Intan Jaya ini sebelumnya aman, namun bergolak sejak adanya pengerahan  pasukan. Masalah yang ada bukan masalah sosial, sehingga dapat diselesaikan oleh Bupati Intan Jaya,” ujar Sekretaris II DAP, John NR Gobay Selasa, (20/10/2020).

Bacaan Lainnya

Jika masalah sosial, menurut Gobay, masyarakat asli Intan Jaya sangat mengetahui cara menyelesaikan masalah.

“Ini bukan soal izin tambang. Karena soal itu sangat bergantung masyarakat Intan Jaya. Jika masyarakat menolak perusahaan Mining Industry Indonesia (MIND ID) masuk Intan Jaya. Ya perusahaan tambang tidak akan masuk di Intan Jaya, sehingga rekomendasi Gubenur Papua kemudian dilihat sebagai sumber masalah,” ungkap dia.

Namun, ia tegaskan ini persoalannya adalah adanya pasukan non organik yang kemudian muncul kontak senjata dan mengakibatkan korban di berbagai pihak.

“Sehingga harus ada upaya yang strategis oleh DPRP, MRP dan DPR RI yaitu penarikan pasukan non organik dari Paniai dan Intan Jaya, daerah ini harus ada pembangunan tanpa bunyi bunyi senjata,” ujarnya.

ia tegaskan, masalah Papua tidak boleh diselesaikan dengan cara-cara kekerasan, tetapi harus diselesaikan dengan cara-cara dialogis dan damai tanpa bunyi senjata.

Pastor Katolik Intan Jaya, P. Yance Wadogoubii Yogi, Pr meminta kepada seluruh umat Tuhan di seluruh Meepago dan Papua agar konflik di Intan Jaya segera terselesaikan dengan baik.

“Saya minta berbagai komponen jangan bangun isu yang tidak benar di media massa. Ini memperkeruh situasi, saya harap mohon doakan kepada kami di Intan Jaya agar segera pulih dari situasi tidak aman yang kami hadapi di sana,” katanya di Paniai.

Ia juga meminta kepada pemerintah pusat dan provinsi Papua, jangan menambah beban berat kepada masyarakat dengan berbagai program tawaran, namun sejatinya selesaikan persolan dengan cara manusiawi.

“Itu saja, tidak boleh berlebihan dengan tawaran apa-apa. Kita ini setengah mati urus umat Tuhan entah TPN-BP ataupun TNI dan Polri juga umat saya. Saya berdiri di tengah-tengah mereka. Saya tidak bisa berat sebelah. Mari kita sama-sama akhiri masalah ini,” ujarnya. (Jubi)

Pos terkait