Ongen: Aktivis Bukan Label Politik, Tapi Jejak Perjuangan

JurnalPatroliNews – Jakarta – Mantan tahanan politik era Presiden Joko Widodo, Dr. Yulian Paonganan atau Ongen, menegaskan bahwa gelar “aktivis” bukanlah sesuatu yang bisa dideklarasikan sendiri. Menurutnya, hanya sejarah yang berhak mencatat siapa yang benar-benar pantas disebut aktivis.

“Menyebut diri aktivis itu beban. Aktivis sejati tidak pernah merasa perlu mendeklarasikan diri. Sejarah yang akan menguji dan mencatat siapa yang layak,” ujar Ongen di Jakarta, Sabtu (23/8).

Pernyataan itu dinilainya relevan di tengah maraknya klaim sepihak dari sejumlah pihak yang mengaku aktivis hanya untuk kepentingan politik praktis maupun pencitraan.

Ongen menjelaskan, aktivisme sejati bukan sekadar label, melainkan konsekuensi dari perjuangan panjang, keberanian menanggung risiko, serta konsistensi membela kepentingan rakyat.

Dalam lintasan sejarah bangsa, kata dia, peran aktivis selalu muncul di titik-titik krusial. Mulai dari gerakan mahasiswa era Orde Lama, peristiwa 1966, aksi 1974, Reformasi 1998, hingga berbagai demonstrasi menuntut keadilan sosial di era demokrasi modern. Mereka yang berani turun ke jalan, berhadapan dengan aparat, bahkan kehilangan kebebasan, itulah wajah nyata aktivisme.

Ongen sendiri mengaku pernah merasakan konsekuensi berat itu. Sebagai mantan tapol, ia harus menjalani hukuman penjara akibat sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah di masa Presiden Jokowi.

“Aktivisme selalu menuntut pengorbanan. Kebebasan, rasa aman, bahkan masa depan bisa menjadi taruhannya,” ujarnya.

Ia mengkritik munculnya fenomena “aktivis instan” yang hanya mengandalkan panggung politik atau media sosial untuk menempelkan label aktivis pada dirinya. Ongen mencontohkan kasus terbaru mantan Wakil Menteri Tenaga Kerja, Immanuel Ebenezer alias Noel, yang kerap mengaku bagian dari “aktivis 98”.

Menurutnya, Noel yang selama ini mengibarkan bendera aktivis reformasi justru terjerat dugaan korupsi. Hal itu menjadi ironi yang, kata Ongen, mencoreng marwah gerakan mahasiswa 1998.

“Kasus Noel menunjukkan bahwa klaim sebagai aktivis tidak identik dengan integritas. Pada akhirnya, publik dan sejarah yang menentukan, bukan klaim pribadi,” tegasnya.

Sebaliknya, Ongen menyinggung figur-figur seperti Soe Hok Gie, yang tanpa perlu deklarasi tetap dikenang sejarah sebagai simbol keberanian mahasiswa melawan ketidakadilan.

“Aktivis sejati tak pernah sibuk mengklaim dirinya. Langkah, sikap, dan konsistensinya akan abadi dalam catatan bangsa,” pungkas Ongen.