JurnalPatroliNews – Jakarta – Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menyatakan bahwa Indonesia berada pada posisi yang tepat untuk memimpin upaya pengendalian perubahan iklim di kawasan Asia. Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara utama pada forum Asia Climate Solutions Pavilion yang digelar Swaniti Initiative di sela pelaksanaan COP30 UNFCCC di Belem, Brasil.
“Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pusat solusi iklim dunia. Kekayaan alam kita—mulai dari hutan, gambut hingga mangrove—mampu menyerap miliaran ton emisi karbon,” ujar Eddy dalam keterangan tertulis pada Jumat, 14 November 2025.
Ia menekankan bahwa arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto menempatkan transisi menuju energi bersih sebagai fondasi pembangunan nasional.
“Presiden Prabowo memiliki visi yang tegas: mencapai kemandirian energi, mempercepat penggunaan energi terbarukan hingga 100 persen dalam 10 tahun, dan mewujudkan net-zero emission pada 2050 tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi,” kata Eddy.
Dalam penjelasannya, politisi PAN itu juga menyinggung Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang disebut sebagai tonggak utama transformasi energi Indonesia.
“RUPTL hijau ini akan menambah kapasitas energi bersih sebesar 53 gigawatt dari berbagai sumber seperti surya, hidro, panas bumi, angin, hingga teknologi penyimpanan baterai. Implementasinya dapat menciptakan lebih dari 1,7 juta pekerjaan hijau dan mendongkrak pertumbuhan PDB sekitar 0,7 persen setiap tahun,” ungkapnya.
Eddy menambahkan bahwa selain transisi energi, Indonesia juga sedang memperkuat tata kelola emisi karbon, yang diharapkan membuka peluang ekonomi baru.
“Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon memberi kita kerangka hukum yang menyatukan seluruh kebijakan karbon nasional,” jelasnya.
Sebagai bagian dari pimpinan MPR, Eddy memastikan peran parlemen akan tetap krusial dalam menjamin konsistensi arah kebijakan iklim dan energi ke depan.
“MPR akan memastikan semua regulasi terkait energi dan perubahan iklim sejalan dengan RPJMN dan target Net Zero 2060,” tutupnya.














