JurnalPatroliNews – Jakarta – Kinerja sektor manufaktur di kawasan Asia pada November 2025 menunjukkan pola yang tidak seragam. Ketidakpastian pasar dunia dan tekanan deflasi yang masih membayangi menjadi faktor utama, meskipun tensi perdagangan Amerika Serikat mulai menunjukkan pelonggaran.
Indeks PMI terbaru mengungkapkan fenomena menarik: negara dengan industri terbesar di Asia justru mengalami penurunan aktivitas.
Di China, sektor manufaktur kembali masuk zona kontraksi. Walaupun data resmi mencatat perlambatan laju penurunan, tingginya stok barang dan minimnya pergerakan kontainer di pelabuhan menekan output hingga menyentuh titik terlemah dalam empat bulan terakhir. Para analis menilai tekanan deflasi masih sangat terasa.
“Pergerakan volume kontainer di berbagai pelabuhan China hampir stagnan dibanding Oktober. Meskipun ada sedikit pemulihan permintaan, peningkatan itu belum mampu mendorong produksi karena tingginya persediaan. Komponen output kini berada di level terendah dalam empat bulan.”
Kondisi tak jauh berbeda terjadi di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Jepang mencatat kontraksi pesanan baru selama dua setengah tahun berturut-turut akibat lemahnya permintaan global. Korea Selatan dan Taiwan pun mengalami penyusutan output, meskipun Korsel masih terbantu oleh penjualan chip dan kendaraan yang menembus rekor tertinggi.
Berbanding terbalik, negara-negara Asia Tenggara justru memperlihatkan performa yang kuat. Indonesia dan Vietnam berhasil mencatat pertumbuhan manufaktur yang kokoh, sementara Malaysia akhirnya kembali ke zona ekspansi setelah periode melemah, menandakan daya tahan ekonomi domestik di tengah gejolak global.
Kendati ketegangan dagang AS–China perlahan mereda, pelaku industri di benua Asia belum benar-benar terbebas dari dinamika perdagangan pasca-era tarif pemerintahan Trump. Permintaan dunia yang masih lemah membuat banyak perusahaan menahan laju produksi, meski ada tanda-tanda membaiknya situasi perdagangan.














