JurnalPatroliNews – Jakarta – Tahun 2026 diperkirakan menjadi periode penuh tantangan bagi perekonomian nasional, khususnya bagi masyarakat luas. Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat diprediksi akan berdampak langsung pada kenaikan harga barang, terutama produk impor, yang pada akhirnya menekan tingkat konsumsi rumah tangga.
Pandangan tersebut disampaikan ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, saat mengulas analisis Prof. Ferry Latuhihin yang memperkirakan nilai tukar Rupiah berpeluang menyentuh level Rp18.000 per Dolar AS menjelang akhir 2026.
Menurut Yanuar, proyeksi tersebut semakin relevan jika mencermati aktivitas di pasar perjanjian privat atau pasar forward. Skema ini memungkinkan dua pihak menyepakati transaksi jual beli aset—termasuk mata uang—untuk waktu tertentu di masa depan dengan harga yang ditentukan sejak awal.
Ia menjelaskan bahwa pola transaksi yang banyak digunakan adalah Non-Deliverable Forward (NDF), yakni kontrak derivatif valuta asing yang umumnya dimanfaatkan untuk tujuan lindung nilai maupun spekulasi nilai tukar. Fenomena ini, kata Yanuar, justru membuka peluang pelemahan Rupiah terjadi lebih cepat dari perkiraan awal.
Yanuar menilai bahwa berdasarkan pergerakan NDF, tekanan terhadap Rupiah berpotensi muncul sejak awal 2026, bukan menunggu akhir tahun. Hal ini terlihat dari besarnya kontrak NDF untuk jangka pendek hingga tiga bulan ke depan.
Ia menambahkan, aktivitas pasar forward dengan skema NDF banyak dilakukan oleh kelompok pemilik modal besar. Dampaknya, peredaran uang di pasar domestik menjadi lebih terbatas, sementara potensi keuntungan justru dinikmati oleh kalangan tertentu.
Dalam skenario tersebut, Yanuar menggambarkan pelemahan Rupiah akan berlangsung bertahap. Dari kisaran Rp16.000 per Dolar AS, nilai tukar dapat bergerak ke Rp17.000 dan selanjutnya mendekati Rp18.000 dalam beberapa periode ke depan. Bagi investor besar, kondisi ini dinilai menguntungkan, namun sebaliknya bagi masyarakat umum.
Tekanan nilai tukar, lanjutnya, akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok dan barang impor, seperti produk pangan dan susu, sehingga daya beli masyarakat kian tergerus.
Atas dasar itu, Yanuar memperkirakan depresiasi Rupiah pada 2026 hampir tak terelakkan. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada stabilitas nilai tukar, tetapi juga berpotensi menekan konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menegaskan bahwa tekanan terhadap Rupiah di tahun 2026 akan sangat besar, seiring transaksi forward yang telah disusun sejak sekarang untuk periode tiga bulan, enam bulan, hingga satu tahun ke depan.














