Konflik AS-Iran Belum Usai, IEA Sebut Proyeksi Surplus Minyak Dunia Bisa Buyar

JurnalPatroliNews | Paris – Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperingatkan bahwa kembali memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi menggagalkan proyeksi surplus pasokan minyak dunia yang sebelumnya diperkirakan terjadi pada 2027.

Dalam laporan pasar minyak bulanan yang dirilis Sabtu (11/7/2026), IEA menegaskan bahwa prospek normalisasi pasar energi global masih sangat bergantung pada stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah, khususnya kelancaran jalur pelayaran melalui Selat Hormuz yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia.

IEA mencatat pasokan minyak global meningkat sekitar 4,1 juta barel per hari (bpd) pada Juni setelah aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz kembali dibuka. Namun, volume tersebut masih berada sekitar 9,4 juta barel per hari di bawah tingkat sebelum pecahnya konflik.

Lembaga yang berbasis di Paris itu memperkirakan pasokan minyak global dapat meningkat hingga 7,5 juta barel per hari pada 2027, setelah mengalami kontraksi sekitar 3,7 juta barel per hari sepanjang 2026. Kendati demikian, proyeksi tersebut sangat bergantung pada keberhasilan pemulihan jalur distribusi energi internasional.

“Eskalasi konflik pada 7–8 Juli membayangi prospek pasar dan dapat menggagalkan proyeksi yang memperkirakan pasar akan mengalami surplus pada tahun depan,” tulis IEA dalam laporannya.

Perdamaian Jadi Kunci Stabilitas

IEA menilai tercapainya kesepakatan damai jangka panjang antara pihak-pihak yang berkonflik menjadi syarat utama agar keseimbangan pasar minyak global dapat kembali pulih.

Berdasarkan proyeksi terbaru, pasokan minyak dunia diperkirakan melampaui permintaan sekitar 4,62 juta barel per hari pada 2027, berbalik dari kondisi defisit sekitar 860 ribu barel per hari yang diperkirakan terjadi sepanjang tahun ini.

Proyeksi tersebut dibuat dengan asumsi bahwa negara-negara produsen mampu mengaktifkan kembali fasilitas produksi minyak, sementara sektor pengilangan serta distribusi energi internasional kembali beroperasi secara normal.

Konsumsi Diprediksi Kembali Menguat

Dari sisi permintaan, IEA memperkirakan konsumsi minyak global akan turun sekitar 1 juta barel per hari selama 2026 sebelum kembali meningkat sekitar 2 juta barel per hari pada 2027.

Dalam jangka pendek, musim puncak konsumsi bahan bakar serta harga minyak yang relatif lebih rendah diperkirakan akan mendorong kenaikan konsumsi hingga sekitar 8 juta barel per hari dibandingkan posisi terendah yang terjadi pada Mei saat konflik mencapai titik paling intens.

Solar dan Bensin Mulai Tertekan

Meski ekspor minyak mentah mulai pulih, IEA mencatat aktivitas pengolahan minyak dan distribusi produk turunannya masih berlangsung lebih lambat.

Kondisi tersebut menyebabkan pasokan bahan bakar olahan, terutama bensin dan solar, menjadi semakin ketat sehingga mendorong margin keuntungan kilang minyak mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir pada awal Juli.

Di kawasan Atlantik, pasar solar mengalami tekanan akibat terbatasnya pasokan dari Timur Tengah yang diperparah oleh menurunnya ekspor Rusia setelah meningkatnya serangan Ukraina terhadap infrastruktur kilang minyak negara tersebut.

Sementara itu, data IEA menunjukkan persediaan minyak dunia meningkat sekitar 21 juta barel sepanjang Juni, menjadi kenaikan pertama dalam empat bulan terakhir setelah sebelumnya stok global menyusut sekitar 360 juta barel selama periode Maret hingga Mei.

Laporan tersebut memperlihatkan bahwa meskipun pasar energi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, stabilitas pasokan minyak dunia masih sangat rentan terhadap perkembangan geopolitik, terutama eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi kembali mengganggu rantai pasok energi global.

Komentar