JurnalPatroliNews – Jakarta – Munculnya kasus influenza A (H3N2) yang kerap disebut sebagai “super flu” di Indonesia dinilai telah dibingkai secara berlebihan melalui narasi yang bernuansa kepanikan. Penyakit tersebut disebut-sebut dipersepsikan jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan kondisi medis yang sebenarnya.
Ketua Umum Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia, Agung Nugroho, menilai bahwa penyakit ini pada dasarnya merupakan jenis flu yang lazim, namun diperbesar dampaknya oleh arus informasi yang masif.
“Ini penyakit yang sebenarnya umum, tetapi kemudian diperkuat narasinya secara berlebihan. Bukan hanya lewat media, melainkan juga melalui ekosistem teknologi dan komunikasi yang berkembang saat ini,” ujar Agung dalam keterangan tertulis, Minggu, 4 Januari 2026.
Ia berpendapat bahwa faktor teknologi modern turut memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Salah satu hal yang menurutnya perlu dikaji lebih terbuka adalah paparan gelombang elektromagnetik, termasuk jaringan 5G.
“Ada dugaan paparan gelombang elektromagnetik dapat memperberat kondisi tubuh yang sudah rentan. Namun isu ini jarang dibahas secara terbuka,” kata Agung.
Lebih lanjut, Agung mengkritisi arah perbincangan publik yang dinilainya terlalu terfokus pada gejala penyakit, sementara faktor-faktor yang dianggapnya lebih mendasar tidak pernah menjadi topik diskusi utama. Ia juga menyinggung isu chemtrail dan geo-engineering yang menurutnya sering kali langsung dikesampingkan.
“Ketika topik itu muncul, langsung dicap sebagai teori konspirasi. Padahal yang dibutuhkan adalah ruang kajian yang terbuka, bukan penutupan diskusi,” ujarnya.
Selain itu, Agung turut menyoroti kondisi kesehatan sebagian masyarakat setelah program vaksinasi massal. Ia menyebut adanya kelompok yang merasa mengalami penurunan daya tahan tubuh, meskipun isu tersebut jarang dibahas secara luas.
“Pengalaman seperti ini kami temui di lapangan, tetapi diskusinya hampir tidak pernah dilakukan secara mendalam,” tutupnya.














