JurnalPatroliNews – Jakarta -Ibu kota Pakistan, Islamabad, diguncang serangan bom bunuh diri mematikan yang menargetkan sebuah masjid saat pelaksanaan salat Jumat (6/2/2026). Insiden tragis ini mengakibatkan sedikitnya 31 orang meninggal dunia dan melukai lebih dari 170 jemaah lainnya.
Kelompok teroris ISIS secara resmi telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut melalui saluran komunikasi Telegram.
Kejadian ini tercatat sebagai salah satu serangan teror paling berdarah yang pernah terjadi di jantung pemerintahan Pakistan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.
Laporan dari pejabat keamanan setempat menyebutkan bahwa pelaku sempat melepaskan tembakan ke arah jemaah sebelum akhirnya meledakkan diri di barisan saf terakhir.
Masjid yang menjadi sasaran merupakan tempat ibadah yang digunakan oleh komunitas jemaah Syiah. ISIS juga merilis sebuah foto yang diduga merupakan pelaku serangan tersebut dengan kondisi wajah yang diburamkan sebagai bagian dari propaganda mereka.
Situasi di lokasi kejadian dilaporkan sangat mencekam dengan kerusakan bangunan yang cukup masif akibat kekuatan ledakan.
Di tengah suasana duka, respons pemerintah Pakistan memicu dinamika diplomatik baru. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, secara terbuka melontarkan tuduhan bahwa India merupakan pihak yang bertanggung jawab atas serangan ini.
Namun, tudingan serius tersebut disampaikan tanpa menyertakan bukti-bukti konkret di hadapan publik.
Tuduhan ini menambah panjang daftar perselisihan antara dua negara bertetangga yang memang telah lama memiliki hubungan yang tegang di wilayah Asia Selatan.
Pemerintah India melalui Kementerian Luar Negeri segera mengeluarkan bantahan resmi atas pernyataan sepihak tersebut.
Pihak New Delhi menegaskan bahwa tuduhan yang dilontarkan oleh Pakistan sama sekali tidak berdasar dan hanya bersifat spekulatif.
Sementara itu, pihak otoritas keamanan di Islamabad saat ini sedang memperketat pengamanan di seluruh penjuru kota guna mengantisipasi adanya serangan susulan dan fokus pada proses evakuasi serta identifikasi korban yang masih berlangsung di rumah sakit setempat.













