JurnalPatroliNews – Bandung — Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menegaskan bahwa Indonesia harus segera keluar dari fase pertumbuhan setengah matang dan melangkah lebih jauh menuju level negara maju.
Pernyataan itu disampaikannya saat memberikan kuliah umum bertajuk “Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Naik Kelas” di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (11/2/2026).
Pria yang akrab disapa Cak Imin tersebut menilai, selama lebih dari satu dekade Indonesia masih terjebak pada pola pembangunan yang belum menghasilkan lompatan signifikan. Menurutnya, bangsa ini tidak boleh terus bertahan di posisi tengah tanpa arah transformasi yang jelas.
Ia menekankan bahwa momentum untuk “naik kelas” harus dimulai sekarang, dengan keberanian mengambil langkah besar dan meninggalkan pendekatan setengah-setengah dalam pembangunan ekonomi nasional.
Dalam paparannya, Cak Imin juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor serta keterlibatan berbagai generasi untuk mewujudkan visi besar Indonesia. Ia mengingatkan bahwa tidak ada negara maju yang bertumpu semata-mata pada eksploitasi sumber daya alam.
Menurutnya, kemajuan sebuah negara ditentukan oleh kekuatan industrialisasi dan hilirisasi yang didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, serta masyarakat yang memiliki daya saing.
Untuk itu, ia memperkenalkan kerangka pembangunan DAI, yakni Distinktif, Adaptif, dan Inklusif. Distinktif berarti membangun keunggulan nasional yang khas dan tidak sekadar meniru model negara lain. Adaptif dimaknai sebagai kemampuan merespons cepat perubahan global, mulai dari transisi energi, perkembangan teknologi digital, hingga gejolak ekonomi dunia.
Sementara itu, pendekatan Inklusif menekankan pentingnya pelibatan masyarakat secara luas dalam proses industrialisasi, khususnya warga di sekitar kawasan industri, agar mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut merasakan peningkatan kualitas hidup.
Cak Imin menegaskan bahwa ekonomi inklusif merupakan syarat utama agar pertumbuhan tidak terkonsentrasi pada kelompok tertentu saja. Ia berharap industri benar-benar menjadi sarana pemberdayaan rakyat.
“Ketika masyarakat terlibat dan berdaya, maka Indonesia naik kelas bukan sekadar jargon, melainkan kenyataan yang dirasakan bersama,” tutupnya.













