Oleh: Yudi Latif
Saudaraku, banyak orang mengira memimpin negara itu mahasulit. Namun dalam banyak hal, memimpin negara itu lebih sederhana daripada memimpin keluarga. Negara dapat diatur dengan hukum dan kewenangan, sementara keluarga hanya dapat dipimpin dengan kasih, pengertian, kesetiaan, keteladanan dan tanggung jawab.
Sekilas, negara tampak sebagai puncak kerumitan organisasi manusia. Padahal, sesungguhnya ia hanyalah institusi kehidupan sosial sehari-hari yang diperluas ke dalam skala yang lebih besar.
Kita terbiasa percaya bahwa semakin besar sesuatu, semakin rumit ia diatur. Maka negara dibungkus dengan bahasa yang tinggi, teori yang tebal, dan jabatan yang terdengar seperti beban di luar jangkauan manusia biasa. Namun sejarah sering menyimpan ironi yang tidak selalu diucapkan dengan keras: ada orang yang mampu mengatur jutaan manusia di atas peta, tetapi goyah dalam mengelola beberapa relasi yang paling dekat di dalam hidupnya sendiri.
Nelson Mandela memimpin salah satu transisi politik paling rumit dalam sejarah modern, dari konflik panjang menuju rekonsiliasi nasional yang diakui dunia. Namun di balik itu, kehidupan pribadinya tidak selalu berjalan dalam harmoni yang sama, dan pernikahannya berakhir dengan perceraian.
Mao Zedong membentuk ulang sebuah bangsa, tetapi di balik itu kehidupan pribadinya jauh dari stabil, dengan relasi keluarga dan rumah tangga yang tidak pernah benar-benar utuh.
Bahkan Winston Churchill, yang kata-katanya mampu membakar semangat perang, pernah menyiratkan—dalam semangat retoriknya—bahwa pertempuran yang paling melelahkan sering tidak terjadi di medan perang, melainkan di ruang yang paling dekat dengan meja makan.
Mungkin kita keliru membaca skala. Kita mengira yang jauh pasti lebih rumit, padahal yang dekat justru paling sulit disederhanakan.
Sebab negara, jika dikupas sampai ke dasarnya, bukanlah labirin yang mistis. Ia adalah hal-hal yang justru terlalu sederhana untuk terus-menerus dibuat rumit: jalan yang harus diperbaiki, sekolah yang harus berjalan, orang yang harus bekerja, dan komitmen yang tidak ikut berubah setiap kali pemimpin berganti.
Di titik itu, paradoksnya menjadi jelas: semakin kita membungkus negara dengan kerumitan, semakin kita menjauh dari hal-hal yang sebenarnya membuatnya bekerja.
Tugas pemimpin negara adalah menemukan kesederhanaan di balik kompleksitas. Seperti yang pernah disiratkan Sun Tzu: di tangan pemimpin yang tercerahkan, hal yang rumit menjadi sederhana; di tangan pemimpin yang tergelapkan, hal yang sederhana menjadi ruwet.
Dalam kaitan itu, ada formula sederhana yang telah terbukti ampuh untuk memimpin negara di segala zaman.
Pertama, jangan terlalu sering mengganggu rakyat yang sedang berusaha hidup. Sebab banyak kegagalan bukan lahir dari kurangnya kebijakan, melainkan dari hasrat mengatur yang berlebihan.
Kedua, jaga kepercayaan rakyat. Sebab negara tidak bisa berjalan hanya dengan kekuasaan, tetapi juga dengan keyakinan bahwa kekuasaan itu layak dipercaya. Tanpa kepercayaan, negara hanya bisa berjalan dengan paksaan—aturan harus terus diawasi, dan kepatuhan menjadi beban yang mahal.
Ketiga, jangan membelanjakan uang negara lebih banyak daripada yang masuk. Kalau terpaksa berutang, pastikan utang itu digunakan untuk hal yang membuat negara bisa tumbuh dan membayarnya kembali. Sebab negara yang terus hidup di atas kemampuannya akan kehilangan kebebasan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Keempat, pilih orang yang benar-benar mampu bekerja, lalu beri mereka ruang untuk bekerja. Sebab birokrasi sering bukan gagal karena kekurangan orang cakap, melainkan karena terlalu banyak campur tangan.
Kelima, patuhi aturan bahkan ketika aturan tidak menguntungkan Anda. Dan jika aturan itu buruk, ubahlah dengan cara yang benar—di situlah kekuasaan diuji: apakah ia digunakan untuk kepentingan umum atau kepentingan diri sendiri.
Keenam, jangan hanya mengejar kemenangan jangka pendek. Pikirkan akibat keputusan hari ini bagi negara puluhan tahun ke depan, karena yang baik untuk negara sering tidak langsung terlihat sebagai keberhasilan.
Pada akhirnya, yang membuat memimpin negara tampak sulit bukan kompleksitasnya, melainkan kebiasaan kita menolak kesederhanaan yang menuntut konsistensi.
Seperti yang pernah disiratkan oleh Leonardo da Vinci, kesederhanaan bukanlah ketiadaan kedalaman, melainkan tanda bahwa kedalaman itu telah dipahami sampai tidak perlu lagi dipamerkan.
Namun manusia kerap meragukan hal-hal yang sederhana. Kita lebih mudah terpikat oleh kerumitan yang tampak cerdas daripada menerima kebenaran yang tampak sederhana.
Memimpin negara tak serumit yang dibayangkan. Negara berjalan karena hal-hal sederhana yang mendasar. Ketika hal-hal sederhana itu terjaga, negara dapat bertahan. Ketika hal-hal itu terabaikan, tak ada kerumitan apa pun yang dapat menyelamatkannya. Pada akhirnya, yang menopang ketahanan sebuah negara bukanlah kerumitan, melainkan kesederhanaan yang dijaga dan dijalankan dengan setia.














Komentar