JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi perekonomian Indonesia masih relatif solid meski terjadi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya usai mengikuti rangkaian diskusi Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah tokoh nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa malam (3/2/2026).
Menurut Purbaya, dalam pertemuan tersebut pemerintah turut mengkaji berbagai kemungkinan dampak apabila krisis global berlangsung lebih lama dari perkiraan. Hasil analisis terbaru, kata dia, menunjukkan kondisi ekonomi nasional masih berada dalam jalur yang terkendali.
Ia menambahkan, indikator penerimaan negara juga menunjukkan tren positif. Penerimaan pajak pada dua bulan pertama tahun ini tercatat meningkat signifikan.
“Karena tax collection kita juga membaik, Januari–Februari kan tumbuhnya 30 persen. Itu angka yang signifikan sekali, artinya ada perbaikan yang signifikan di ekonomi dan perilaku orang-orang, pajak dan bea cukai,” ujarnya.
Menjawab pertanyaan mengenai daya tahan ekonomi Indonesia di tengah potensi lonjakan harga energi akibat konflik Iran versus AS-Israel, Purbaya memastikan pemerintah telah menyiapkan berbagai simulasi, khususnya terkait asumsi harga minyak dunia dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Pokoknya kita hitung simulasi harga minyak level tertentu ya setahun, untuk anggaran setahun ini. Jadi masih bisa di-absorb kalau harga minyak naik,” jelasnya.
Ia menekankan, selama kenaikan harga minyak masih berada dalam rentang asumsi makro yang telah diperhitungkan, tekanan terhadap ekonomi nasional masih dapat diserap. Meski demikian, pemerintah tetap siaga untuk melakukan evaluasi ulang apabila terjadi lonjakan harga yang ekstrem.
“Kalau terlalu tinggi, tapi kalau ekstrem sekali akan kita hitung ulang,” pungkasnya.














