JurnalPatroliNews – Jakarta – Perusahaan pengelola jaringan bioskop PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk yang dikenal melalui merek Cinema XXI mencatatkan pendapatan sebesar Rp5,86 triliun sepanjang tahun buku 2025. Kinerja tersebut menunjukkan pertumbuhan sekitar 2,6 persen dibandingkan pendapatan pada 2024 yang mencapai Rp5,71 triliun.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, peningkatan pendapatan terutama ditopang oleh penjualan tiket bioskop yang mencapai Rp3,56 triliun. Selain itu, kontribusi dari penjualan makanan dan minuman juga cukup signifikan dengan nilai Rp1,99 triliun.
Meski pendapatan meningkat, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp776,24 miliar pada 2025. Angka ini turun sekitar 3,3 persen dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang sebesar Rp802,54 miliar.
Penurunan juga terjadi pada laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Nilainya tercatat sebesar Rp704,75 miliar, lebih rendah dibandingkan 2024 yang mencapai Rp728,95 miliar.
Di sisi lain, peningkatan aktivitas operasional membuat total beban dan biaya operasi perusahaan ikut meningkat. Sepanjang 2025, total beban operasional tercatat sebesar Rp4,81 triliun, naik dari Rp4,67 triliun pada tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat laba usaha perseroan berada di angka Rp1,05 triliun, relatif stabil dibandingkan posisi 2024 yang sebesar Rp1,06 triliun.
Dampak dari dinamika tersebut turut tercermin pada laba per saham dasar perseroan yang turun menjadi Rp8,53 per saham, dari sebelumnya Rp8,75 per saham.
Dari sisi neraca, total aset perusahaan per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp6,76 triliun, turun dari posisi akhir 2024 yang sebesar Rp7,01 triliun. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya aset lancar.
Sementara itu, liabilitas perseroan tercatat relatif stabil di angka Rp2,42 triliun. Namun, ekuitas perusahaan mengalami penurunan sekitar 5,67 persen menjadi Rp4,34 triliun.
Adapun posisi kas dan setara kas pada akhir 2025 berada di level Rp1,81 triliun, menurun dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar Rp2,02 triliun. Penurunan kas ini mencerminkan penggunaan dana untuk mendukung kegiatan operasional serta rencana ekspansi bisnis perusahaan ke depan.














