JurnalPatroliNews – Jakarta – Kediaman mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menjadi titik kumpul strategis bagi para aktivis, akademisi, birokrat, hingga pengusaha lintas generasi pada Sabtu (7/3).
Pertemuan tersebut digelar guna membedah arah masa depan bangsa sekaligus menyuarakan kegelisahan mendalam atas krisis kepemimpinan yang dinilai sedang melanda tanah air.
Inisiator pertemuan, Sudirman Said, menegaskan bahwa diskusi ini lahir dari keprihatinan kolektif terhadap merosotnya standar moral pemimpin saat ini. Ia menyoroti hilangnya aspek kepemimpinan intrinsik yang seharusnya menjadi fondasi utama dalam mengelola negara.
“Yang hilang adalah kepemimpinan intrinsik; kepemimpinan yang didasari oleh nilai-nilai luhur seperti integritas, visi, kompetensi, wisdom, dan kapasitas menggerakkan perbaikan,” ujar Sudirman Said dalam pertemuan tersebut.
Menurutnya, meski JK tidak lagi memegang jabatan formal di pemerintahan, sosoknya dinilai masih memiliki pengaruh kepemimpinan yang kuat karena integritas yang terjaga. Kehadiran para tokoh ini bertujuan untuk menyambungkan kembali etika dengan kekuasaan.
Belajar dari Pengalaman sang Juru Damai
Pakar Hukum Universitas Andalas, Feri Amsari, membeberkan dua alasan utama mengapa para tokoh meminta waktu khusus untuk bertemu JK.
Pertama, pengalaman JK sebagai Wapres, ketua partai, hingga juru damai dianggap sangat krusial untuk membentengi negeri dari dampak krisis kepemimpinan global.
“Mengulang kata Pak JK, pemimpin tidak boleh menggunakan sebatas insting dan instan,” tegas Feri, menyoroti pentingnya kematangan dalam pengambilan keputusan.
Kedua, para tokoh ingin menggali pandangan JK mengenai aspek ekonomi dalam penyelenggaraan negara sebagai referensi untuk perbaikan sistem di masa mendatang.
Analogi ‘Sopir’ Bus NKRI
Nada kritis juga datang dari kalangan mahasiswa. Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, yang turut hadir menegaskan bahwa pertemuan ini murni merupakan gerakan moral, bukan manuver politik praktis.
Ia menggunakan analogi kendaraan untuk menggambarkan posisi rakyat terhadap pemerintah saat ini.
“Sopirnya Prabowo, kernetnya Gibran, awaknya menteri; rakyat sebagai penumpang layak menegur sopir,” kata Tiyo, menekankan pentingnya kontrol publik terhadap jalannya pemerintahan.
Pertemuan ini dihadiri oleh spektrum tokoh yang luas dari berbagai sektor, menciptakan ruang dialog lintas generasi yang diharapkan mampu melahirkan gagasan segar untuk memulihkan standar etika kepemimpinan nasional.














