JurnalPatroliNews – Jakarta – India bukan sekadar “Negeri Bollywood”, melainkan sebuah peradaban kuno yang menyimpan jejak syiar Islam yang damai dan mendalam.
Hal ini menjadi inti bahasan dalam webinar bertajuk “Islam in India: Menjadi Muslim, Perempuan, dan Minoritas” yang diselenggarakan oleh The Lead Institute Universitas Paramadina pada Sabtu malam (7/3).
Acara yang merupakan bagian dari rangkaian program Ramadhan 2026 “Cahaya Islam Lintas Benua” ini menghadirkan perspektif sejarah sekaligus realitas sosial Muslim di India saat ini.
Jejak Damai di Pantai Malabar
Ketua The Lead Institute, Dr. phil. Suratno Muchoeri, menjelaskan bahwa Islam masuk ke India melalui rute perdagangan di Pantai Malabar tanpa melalui ekspansi militer. Bukti autentik peradaban ini adalah Masjid Cheraman Juma di Kerala, yang diyakini berdiri pada 629 Masehi—setahun sebelum peristiwa Fathul Makkah.
“Peradaban Islam di India mencapai puncaknya pada era Kesultanan Delhi hingga Kekaisaran Mughal. Di bawah Jalaluddin Akbar, India menyaksikan harmoni luar biasa antara arsitektur Islam dan toleransi beragama,” papar Suratno.
Menjawab Tantangan dan Stigma
Diskusi juga membedah tantangan sistemik yang dihadapi Muslim India sebagai minoritas, termasuk rendahnya representasi politik di parlemen yang hanya menyentuh angka 5 persen.
Dr. Suratno juga memberikan klarifikasi berbasis data untuk membantah konspirasi “Population Jihad”. Data menunjukkan bahwa tingkat kesuburan Muslim di India justru mengalami penurunan paling tajam, dari 4,41 menjadi 2,36.
Ramadan di Negeri Berjuta Dewa
Farha Naaz Mansoorie, kandidat PhD bidang nanoteknologi di IIT Roorkee, berbagi pengalaman personalnya menjalani ibadah puasa di India. Menurutnya, pendidikan tinggi menjadi ruang aman di mana diskriminasi agama jarang ditemukan.
“Di kampus, kami memiliki masjid yang menjadi pusat kegiatan inklusif. Buka puasa bersama mahasiswa dari berbagai negara, termasuk berbincang tentang tradisi di Indonesia, membuat rasa sepi jauh dari keluarga menjadi hilang,” ungkap Farha.
Farha juga meluruskan isu sensitif mengenai konsumsi daging di India. Mengingat larangan daging sapi di banyak wilayah, komunitas Muslim umumnya mengonsumsi daging kerbau sebagai alternatif yang aman secara hukum dan sosial.
Ia menekankan bahwa kunci utama untuk mengatasi ekstremisme dan membangun posisi kuat di masyarakat adalah melalui jalur pendidikan.
Webinar ini ditutup dengan kesimpulan bahwa memahami Islam di India memerlukan kacamata yang luas—melihatnya sebagai warisan sejarah yang agung sekaligus dinamika sosial yang memerlukan resiliensi dan pendidikan.














