JurnalPatroliNews – Moskow – Presiden Vladimir Putin menyatakan Rusia siap kembali memasok minyak dan gas ke negara-negara Uni Eropa di tengah lonjakan harga energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Putin menegaskan Moskow tetap membuka peluang kerja sama dengan negara-negara Eropa yang sebelumnya menghentikan pembelian energi dari Rusia. Sejumlah negara di kawasan tersebut memang berupaya mengurangi ketergantungan pada energi Rusia setelah terjadinya Invasi Rusia ke Ukraina 2022 yang memicu gelombang sanksi dari negara-negara Barat.
Menurut Putin, Rusia tidak pernah menutup pintu bagi pelanggan lama di Eropa selama kerja sama tersebut dilakukan secara stabil dan tanpa tekanan politik.
“Jika perusahaan dan pembeli Eropa memutuskan untuk kembali menjalin kerja sama jangka panjang yang stabil dan bebas dari tekanan politik, maka kami tidak pernah menolaknya. Kami siap bekerja sama dengan orang Eropa,” ujar Putin seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa (10/3/2026).
Ketegangan di pasar energi global meningkat setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gangguan distribusi energi di kawasan Timur Tengah.
Salah satu jalur vital perdagangan energi dunia, Selat Hormuz, dilaporkan mengalami gangguan akibat eskalasi konflik tersebut. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Dalam rapat bersama pejabat pemerintah dan pimpinan perusahaan energi nasional, Putin juga meminta perusahaan Rusia memanfaatkan situasi pasar yang sedang bergejolak. Menurutnya, gangguan pasokan global dapat membuka peluang baru bagi Rusia untuk meningkatkan ekspor minyak dan gas.
Sebelum konflik di Ukraina, lebih dari 40 persen kebutuhan gas Eropa dipasok dari Rusia. Namun setelah penerapan sanksi oleh Uni Eropa dan negara-negara G7, porsi tersebut turun tajam hingga sekitar 13 persen pada 2025.
Kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global juga mendorong lonjakan harga minyak. Harga minyak mentah jenis Brent Crude Oil bahkan sempat melonjak lebih dari 30 persen hingga menembus angka 119 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi dunia.














