Legislator PKB Desak Penangkapan Aktor Intelektual di Balik Serangan terhadap Aktivis KontraS

JurnalPatroliNews – Jakarta – Aksi penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, menuai kecaman dari berbagai pihak. Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Maman Imanulhaq, mendesak aparat penegak hukum untuk tidak hanya menangkap pelaku lapangan, tetapi juga mengungkap aktor intelektual di balik serangan tersebut.

Maman menilai serangan terhadap Andrie Yunus merupakan tindakan kekerasan brutal yang tidak hanya melukai korban secara fisik, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kebebasan sipil, ruang demokrasi, serta para pembela hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.

“Saya mengutuk keras tindakan penyiraman air keras terhadap saudara Andrie Yunus. Ini adalah aksi teror yang keji, biadab, dan tidak berperikemanusiaan. Serangan terhadap aktivis kemanusiaan adalah serangan terhadap demokrasi itu sendiri,” ujar Maman kepada wartawan, Sabtu (14/3/2026).

Selama ini, Andrie Yunus dikenal sebagai aktivis yang konsisten memperjuangkan hak asasi manusia dan keadilan bagi para korban kekerasan. Karena itu, menurut Maman, serangan terhadapnya harus dipandang sebagai ancaman terhadap gerakan pembelaan HAM di Indonesia.

Ia pun meminta aparat penegak hukum segera mengusut kasus tersebut secara transparan dan profesional, sekaligus memastikan seluruh pihak yang terlibat diproses sesuai hukum yang berlaku.

“Aparat penegak hukum harus bergerak cepat, serius, dan transparan untuk mengungkap pelaku serta motif di balik serangan ini. Pelaku lapangan harus ditangkap, tetapi yang lebih penting adalah mengungkap siapa aktor di belakang serangan ini,” tegasnya.

Selain sebagai legislator, Maman juga merupakan anggota Dewan Pembina KontraS. Ia menyatakan solidaritas penuh kepada Andrie Yunus dan seluruh aktivis yang terus memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Menurutnya, negara memiliki kewajiban untuk menjamin perlindungan bagi para pembela HAM agar dapat menjalankan tugasnya tanpa intimidasi maupun ancaman kekerasan.

“Negara wajib memastikan bahwa para pembela HAM dapat bekerja tanpa intimidasi dan kekerasan. Jika serangan seperti ini dibiarkan, maka kita sedang membuka pintu bagi kemunduran demokrasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Maman mengajak seluruh elemen masyarakat sipil untuk bersama-sama menjaga ruang demokrasi dari berbagai bentuk kekerasan, intimidasi, dan teror terhadap pembela HAM.

“Kita semua harus berdiri bersama melawan kekerasan. Indonesia harus tetap menjadi ruang yang aman bagi para pejuang kemanusiaan dan pembela hak asasi manusia,” pungkasnya.