JurnalPatroliNews – Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah mulai menunjukkan dampak nyata di tingkat akar rumput.
Di Padukuhan Jarum, Desa Kedungjambal, Sukoharjo, Jawa Tengah, program ini tidak hanya menjadi penopang gizi kelompok rentan, tetapi juga menjadi “jaring pengaman” ekonomi bagi warga yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).
Setiana Nur Utami, seorang ibu hamil usia 31 minggu, mengungkapkan rasa syukurnya saat mengantre di Posyandu setempat. Sejak rutin mengonsumsi menu dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Grajegan, ia merasakan perubahan signifikan pada kondisi kehamilannya.
“Alhamdulillah menunya sesuai ketentuan gizi. Berat badan saya dan bayi naik. Kemarin hasil USG juga bagus, berat badan bayi sesuai dengan usia kehamilan,” ujar Setiana, Senin (16/3/2026). Senada dengan Setiana, para ibu menyusui pun merasa terbantu karena asupan nutrisi seperti buah-buahan kini terpenuhi tanpa harus menambah pengeluaran harian.
Harapan Baru bagi Korban PHK Di sisi lain, dapur SPPG Grajegan juga menjadi saksi kebangkitan ekonomi warga. Erna Pujiastuti (42), salah satu pengemas menu MBG, merupakan mantan pekerja pabrik tekstil yang terkena PHK akibat perusahaan pailit.
Setelah sempat menganggur dan hanya mengandalkan penghasilan suami yang tidak menentu, kehadiran SPPG memberikan napas baru bagi dapurnya.
“Setelah kena PHK, saya sempat jadi ibu rumah tangga saja. Sekarang saya bekerja di MBG Grajegan untuk membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga dan sekolah anak,” tutur Erna dengan tangan cekatan mengemas hidangan.
Bagi Erna dan belasan pekerja lainnya di SPPG, program ini adalah solusi ganda: memberikan asupan gizi berkualitas bagi anak sekolah dan ibu hamil, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal.
Mereka berharap program ini terus berlanjut di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto demi masa depan generasi yang lebih sehat dan ekonomi warga yang lebih tangguh.














