JurnalPatroliNews – JAKARTA — Pernyataan kontroversial mantan Wali Kota New York, Rudy Giuliani, memicu perhatian publik setelah ia menyebut Charles III kemungkinan seorang Muslim. Klaim tersebut disampaikan dalam wawancara bersama jurnalis Inggris Piers Morgan dan langsung menuai polemik luas.
Dalam wawancara tersebut, Giuliani juga melontarkan pernyataan keras terkait Islam. Ia mengklaim umat Muslim ingin “mengambil alih” Inggris serta menyebut Al-Qur’an sebagai “kultus kematian”. Ia bahkan menyatakan bahwa dalam 10 tahun ke depan Inggris akan menjadi negara Muslim.
Pernyataan itu mendapat bantahan langsung dalam diskusi yang sama. Morgan mengingatkan bahwa populasi Muslim di Inggris hanya sekitar lima persen dari total penduduk, sehingga klaim tersebut tidak didukung data resmi. Namun, Giuliani tetap bersikeras bahwa pengaruh Muslim lebih besar dari sekadar angka populasi.
Teori Lama Tanpa Bukti
Klaim bahwa Raja Charles III diam-diam memeluk Islam bukanlah hal baru. Teori tersebut telah lama beredar sebagai konspirasi di internet, namun tidak pernah terbukti kebenarannya.
Faktanya, Charles III merupakan kepala Gereja Inggris dan dikenal sebagai penganut Anglikan yang taat.
Ketertarikan Charles terhadap Islam
Meski demikian, Raja Charles diketahui memiliki ketertarikan terhadap Islam. Ia pernah mempelajari bahasa Arab untuk memahami Al-Qur’an secara langsung. Dalam sejumlah pidato, ia juga menekankan kesamaan nilai antara Islam, Kristen, dan Yahudi sebagai agama monoteistik.
Dalam pidatonya pada 1993, Charles menyebut bahwa prinsip utama dalam hukum Islam mencakup nilai keadilan dan kasih sayang. Ia juga pernah menggambarkan komunitas Muslim sebagai aset penting yang memperkaya kehidupan sosial dan budaya di Inggris.
Kritik Giuliani Picu Perdebatan
Selain soal klaim terhadap Raja Charles, Giuliani juga menuai kritik karena pernyataannya terkait hukum syariah yang disebutnya memiliki pengaruh besar di Inggris. Padahal, dewan syariah di negara tersebut tidak memiliki kekuatan hukum formal dan hanya bersifat konsultatif.
Ia juga menyinggung Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dengan menyebutnya terlalu terpengaruh oleh komunitas Muslim—klaim yang kembali memicu perdebatan di ruang publik.
Perbedaan Pandangan
Berbeda dengan narasi Giuliani, Raja Charles justru memandang Islam sebagai bagian dari sejarah dan perkembangan Eropa. Ia pernah menyatakan bahwa Islam bukanlah sesuatu yang terpisah, melainkan bagian dari warisan bersama.
Kontroversi ini menyoroti bagaimana isu agama dan identitas masih menjadi topik sensitif dalam diskursus global. Di sisi lain, pernyataan yang tidak didukung bukti kuat berpotensi memperkeruh hubungan antar komunitas dan memicu polarisasi di masyarakat.














