Anggota DPR Apresiasi Kebijakan Pemerintah Tak Naikkan BBM di Tengah Krisis Energi Global

JurnalPatroliNews – Jakarta – Anggota Komisi XII DPR RI, Yulian Gunhar, memberikan respons positif terhadap kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran.

Langkah diplomatik ini dinilai sebagai sinyal kuat meredanya ketegangan geopolitik global yang dalam beberapa waktu terakhir telah memberikan tekanan berat pada pasar energi dunia.

Menurut Gunhar, penurunan tensi konflik di kawasan Timur Tengah akan memberikan dampak instan pada stabilitas harga minyak mentah global. Sebagai salah satu produsen energi kunci, dinamika hubungan Iran dan Amerika Serikat senantiasa menjadi determinan utama fluktuasi harga komoditas energi dunia.

“Ketegangan Iran-AS selama ini menjadi faktor utama lonjakan harga minyak global. Dengan adanya gencatan senjata ini, kita melihat ada potensi besar harga minyak akan turun ke level yang lebih stabil,” ujar Gunhar dalam keterangannya, Kamis (9/4).

Dampak Positif bagi Fiskal dan Daya Beli Gunhar menekankan bahwa stabilitas harga minyak sangat krusial bagi postur ekonomi Indonesia yang saat ini masih berstatus sebagai net importer energi.

Penurunan harga minyak dunia diproyeksi akan meringankan beban subsidi dan kompensasi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Kondisi tersebut, menurut politikus PDI Perjuangan ini, akan memberikan ruang fiskal yang lebih leluasa bagi pemerintah untuk mendistribusikan anggaran ke sektor-sektor produktif lainnya.

Ia juga memberikan apresiasi atas langkah strategis Presiden yang memilih untuk tidak menaikkan harga BBM nasional meski tekanan harga global sempat memuncak.

“Kami mengapresiasi kebijakan pemerintah yang tetap menjaga harga BBM tidak naik, sementara di beberapa negara tetangga sudah mengalami kenaikan. Ini adalah bentuk nyata keberpihakan negara terhadap daya beli masyarakat di tingkat bawah,” tegasnya.

Stabilitas Rupiah dan Kendali Inflasi Selain sektor energi, Gunhar melihat meredanya tensi geopolitik akan memperbaiki sentimen pasar keuangan.

Kondisi global yang lebih tenang diharapkan dapat mendorong kembalinya arus modal asing (capital inflow) ke pasar domestik, yang pada gilirannya akan memperkuat atau setidaknya menstabilkan nilai tukar Rupiah.

Dari sisi makroekonomi, terkendalinya harga energi juga menjadi kunci dalam menjaga angka inflasi. Dengan harga BBM yang stabil, tekanan terhadap biaya logistik dan harga barang jasa dapat diminimalisir.

Sebagai catatan penutup untuk jangka menengah, Gunhar mendorong pemerintah untuk tidak terlena dengan kondisi ini.

Ia menyarankan agar pemerintah terus mempercepat transisi energi dengan mengoptimalkan kondisi oversupply listrik nasional sebagai solusi jangka panjang kedaulatan energi Indonesia.