JurnalPatroliNews | Jakarta – Harga minyak mentah dunia mengalami tekanan tajam pada penutupan perdagangan Selasa (28/7/2026), dipicu meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Kontrak minyak mentah Brent ditutup turun US$4,27 atau 4,8 persen ke level US$84,09 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat melemah US$3,35 atau 4,1 persen menjadi US$79,26 per barel.
Penurunan tersebut menempatkan Brent pada posisi terendah sejak 13 Juli 2026, sedangkan WTI menyentuh level terendah sejak 16 Juli 2026. Dalam tiga sesi perdagangan terakhir, harga Brent tercatat telah terkoreksi sekitar 16 persen, mencerminkan perubahan sentimen investor terhadap risiko geopolitik.
Tekanan terhadap harga minyak dipicu munculnya optimisme bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran berpeluang mereda setelah kedua negara menghentikan aksi saling serang. Pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan tercapainya solusi diplomatik yang dapat mengurangi ancaman terhadap distribusi energi global.
Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi. Pemerintah Iran membantah adanya pembicaraan langsung dengan Washington, berbeda dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menyebut kedua negara tengah menjalani proses negosiasi yang berlangsung positif.
Perhatian investor kini juga tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Iran mengusulkan pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut secara terbatas dengan pengaturan tertentu. Namun hingga kini belum tercapai kesepakatan, sehingga risiko terhadap kelancaran distribusi minyak global masih menjadi perhatian pasar.
Di sisi lain, ancaman terhadap infrastruktur energi belum sepenuhnya mereda. Saudi Aramco dilaporkan menghentikan sementara operasional kilang Jizan yang memiliki kapasitas sekitar 400 ribu barel per hari setelah menjadi sasaran serangan kelompok Houthi.
Kelompok tersebut juga mengklaim meluncurkan rudal balistik ke kapal tanker minyak milik Arab Saudi, sehingga jalur pelayaran di kawasan Laut Merah masih dinilai memiliki risiko keamanan yang tinggi.
Pelaku pasar juga menantikan keputusan OPEC+, yang dikabarkan tengah mempertimbangkan penundaan rencana peningkatan produksi minyak selama tiga bulan mulai Oktober 2026.
Jika kebijakan tersebut disepakati, tambahan pasokan minyak ke pasar global akan tertunda sehingga berpotensi membatasi pelemahan harga dalam jangka menengah.
Selain perkembangan di Timur Tengah, investor turut mencermati dinamika perang Rusia-Ukraina. Prospek tercapainya kesepakatan damai dan kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap Rusia dinilai dapat meningkatkan ekspor minyak dari salah satu produsen energi terbesar dunia, yang pada akhirnya berpotensi kembali memengaruhi keseimbangan pasokan dan arah harga minyak global.
Secara keseluruhan, pasar energi saat ini bergerak di tengah tarik-menarik antara meredanya tensi geopolitik dan kekhawatiran terhadap pasokan global.
Arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan masih akan sangat bergantung pada perkembangan diplomasi internasional, kebijakan OPEC+, serta kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah.















Komentar