JurnalPatroliNews – Jakarta – Hubungan diplomatik antara Italia dan Israel memanas setelah insiden penembakan yang menimpa kontingen pasukan perdamaian UNIFIL asal Italia di Lebanon Selatan.
Pemerintah Italia merespons cepat dengan memanggil Duta Besar Israel di Roma pada Rabu (8/4) guna menuntut penjelasan resmi atas tindakan militer Israel (IDF) yang membahayakan personel mereka.
Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, menegaskan bahwa keselamatan prajuritnya merupakan prioritas utama yang tidak dapat ditawar.
Melalui akun resmi media sosial X miliknya, Tajani mengonfirmasi telah menginstruksikan pemanggilan diplomat tertinggi Israel tersebut setelah menerima laporan kerusakan pada kendaraan taktis militer Italia.
“Saya baru saja menginstruksikan agar Duta Besar Israel untuk Italia dipanggil ke Kementerian Luar Negeri untuk menjelaskan apa yang terjadi hari ini di Lebanon. Militer Italia tidak boleh disentuh,” tegas Tajani dalam pernyataannya yang dilansir pada Kamis (9/4).
Kronologi Insiden di Tengah Repatriasi Dalam pemaparannya di hadapan parlemen Italia, Tajani menjelaskan bahwa konvoi UNIFIL Italia tersebut sebenarnya sedang menjalankan misi administratif menuju Beirut untuk proses repatriasi personel. Namun, perjalanan tersebut terganggu oleh tembakan peringatan yang dilepaskan oleh pihak militer Israel.
Meskipun tidak ada laporan korban luka dalam peristiwa tersebut, salah satu kendaraan operasional milik kontingen Italia mengalami kerusakan fisik.
Akibat situasi keamanan yang tidak kondusif, seluruh rombongan konvoi diperintahkan untuk segera membatalkan perjalanan dan kembali ke markas demi menghindari risiko lebih lanjut.
Kecaman Atas Eskalasi Serangan Udara Selain memprotes insiden penembakan konvoi, Menlu Tajani juga memperingatkan dunia internasional mengenai eskalasi operasi militer Israel yang kian tidak terkendali di Lebanon.
Ia mencatat bahwa dalam beberapa waktu terakhir telah terjadi gempuran udara paling dahsyat yang melibatkan sekitar 150 pesawat tempur Israel di berbagai wilayah Lebanon.
Laporan dari otoritas Lebanon menyebutkan bahwa sedikitnya 254 orang tewas akibat gelombang serangan besar tersebut.
Angka kematian ini tercatat sebagai yang tertinggi dalam satu hari sejak Israel meluncurkan invasi darat ke Lebanon pada pertengahan Maret 2026. Situasi ini kian mengancam keselamatan personel penjaga perdamaian PBB yang berada di zona konflik.














