JurnalPatroliNews – JAKARTA — Kebuntuan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali memperpanjang ketegangan geopolitik global. Situasi ini memicu kekhawatiran akan dampak lanjutan bagi berbagai negara, termasuk Indonesia.
Pengamat politik Adi Prayitno menilai kondisi tersebut harus menjadi pelajaran penting bagi Indonesia, terutama dalam memperkuat kemandirian di sektor energi.
“Pelajaran penting dari konflik Iran dan Amerika Serikat adalah soal kemandirian energi. Jika kita mandiri dan tidak bergantung pada negara lain, maka sekalipun terjadi perang, kebutuhan BBM atau energi tidak akan terganggu,” ujar Adi dalam pernyataannya melalui kanal YouTube, Senin (13/4/2026).
Menurut Direktur Parameter Politik Indonesia tersebut, pemerintah ke depan perlu secara konsisten mendorong inovasi di sektor energi dan bahan bakar. Hal ini dinilai mendesak mengingat potensi konflik global yang kian meluas.
Ia memperingatkan bahwa konflik di masa depan tidak hanya berpotensi terjadi di kawasan Timur Tengah, tetapi juga di berbagai belahan dunia lain akibat persaingan ekonomi dan perdagangan.
“Ketahanan energi harus menjadi prioritas utama mulai sekarang sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan konflik di masa depan,” tegasnya.
Selain sektor energi, Adi juga menyoroti pentingnya memperkuat ketahanan pangan sebagai pilar utama menghadapi gejolak global. Menurutnya, ketersediaan pasokan pangan yang memadai akan membuat Indonesia lebih siap menghadapi dampak konflik internasional.
“Jika kebutuhan pangan tercukupi, maka kita tidak akan terlalu terdampak meskipun terjadi perang,” pungkasnya.














