Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp7.656 Triliun pada Kuartal I 2026


JurnalPatroliNews – JAKARTA – Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat mencapai 433,4 miliar Dolar AS atau setara sekitar Rp7.656 triliun.

Bank Indonesia mencatat secara bulanan posisi ULN tersebut lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 437,9 miliar Dolar AS. Namun secara tahunan, angka itu meningkat sekitar 3 miliar Dolar AS dari posisi kuartal I 2025 yang sebesar 430,4 miliar Dolar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Denny Ramdan, mengatakan perkembangan posisi ULN dipengaruhi oleh utang sektor publik dan sektor swasta.

“Perkembangan posisi ULN tersebut dipengaruhi oleh ULN sektor publik dan ULN sektor swasta. ULN pemerintah tumbuh lebih rendah, dan ULN swasta menurun,” kata Denny dalam keterangan resminya, Senin (18/5/2026).

Ia merinci, posisi ULN pemerintah pada Maret 2026 mencapai 214,7 miliar Dolar AS atau tumbuh 3,8 persen secara tahunan (year on year/yoy).

“Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran modal masuk asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional,” jelasnya.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22,1 persen dari total ULN pemerintah, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,2 persen, jasa pendidikan 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,5 persen.

Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99 persen dari total utang pemerintah.

Sementara itu, ULN swasta tercatat sebesar 191,4 miliar Dolar AS atau turun 1,8 persen secara tahunan, serta menurun tipis dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencapai 194,2 miliar Dolar AS.

Penurunan tersebut terjadi baik pada kelompok lembaga keuangan maupun non-keuangan, masing-masing turun 3,6 persen dan 1,3 persen.

Bank Indonesia menilai struktur ULN Indonesia masih dalam kondisi sehat karena ditopang prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang.

“Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,5 persen pada triwulan I 2026 dari 30,0 persen pada triwulan IV 2025, serta didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 85,4 persen dari total ULN,” tandas Denny.