JurnalPatroliNews – Jakarta – Investigasi mendalam yang dilakukan oleh otoritas keselamatan transportasi nasional mulai menyingkap tabir baru di balik insiden kecelakaan lalu lintas yang melibatkan angkutan umum.
Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, mengurai draf temuan fakta mengejutkan dalam peristiwa kecelakaan fatal antara armada taksi Green SM atau yang populer disebut taksi hijau dengan rangkaian KRL di kawasan Bekasi Timur.
Tersangka utama yang juga bertindak selaku pengemudi taksi nahas tersebut, Richard Rudolf, kedapatan baru berstatus aktif bekerja selama tiga hari berturut-turut.
Berdasarkan penelusuran draf administrasi, Richard berhasil direkrut oleh manajemen perusahaan melalui jalur bursa kerja atau job fair, namun dirinya terbukti sama sekali belum memperoleh pemahaman serta edukasi teknis kendaraan yang menyeluruh sebelum diterjunkan ke jalan raya.
Soerjanto Tjahjono memberikan penjelasan logis bahwa alur rekrutmen hingga draf proses pelatihan bagi para pengemudi baru di internal perusahaan taksi reguler tersebut berjalan dalam tempo yang tergolong sangat singkat, yakni berkisar antara tiga sampai lima hari kerja saja.
Dalam draf pemaparannya saat menghadiri agenda rapat kerja resmi bersama jajaran Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Soerjanto mengungkapkan data operasional di mana izin penyelenggaraan angkutan taksi reguler untuk wilayah Jabodetabek pada tahun 2024 terdaftar sebanyak 9.995 unit, ditambah dengan izin reguler bandara sebanyak 200 unit, dengan angka perbandingan rasio antara armada kendaraan dan jumlah pengemudi berada di skala 1 banding 1,5.
Dirinya sangat menyayangkan bahwa materi draf pembekalan yang diberikan kepada para pekerja baru tersebut hanya menyentuh aspek pengenalan dasar kendaraan di dalam kelas teori yang berdurasi kilat.
Pola pelatihan operasional dinilai hanya mencakup tata cara menghidupkan mesin mobil, teknik memarkir kendaraan, pengenalan lampu indikator, fungsi tombol atau knob transmisi, serta cara pemakaian sabuk pengaman saja, tanpa dibarengi dengan draf edukasi mendalam seputar aspek teknis mekanikal maupun prosedur darurat saat sistem mobil mendadak mengalami galat atau error.
Draf Rekaman Sistem Onboard dan Rentetan Kekeliruan Operasional Di samping menyoroti minimnya pengalaman sang pengemudi dalam mengendalikan unit roda empat tersebut, tim investigator KNKT juga menemukan draf kendala lain berupa masalah visibilitas di area dasbor, di mana komponen knob lampu indikator dinilai sangat sulit untuk dipantau secara jelas oleh pandangan mata pengemudi saat kondisi siang hari yang terik.
Kendati demikian, draf hasil unduhan data komputer internal atau onboard unit dari taksi bernomor polisi B 2864 SBX tersebut memastikan tidak ada kendala teknis pada mesin sebelum tabrakan terjadi.
Data manifes satu jam sebelum benturan menunjukkan tidak ditemukan satu pun draf rekaman yang mendeteksi adanya error pada komponen sistem.
Unit mobil tersebut bahkan terkonfirmasi telah lulus uji elektromagnetik kompatibiliti dengan mengacu pada standar regulasi India, walaupun untuk regulasi di Indonesia draf pengujian semacam itu belum berstatus wajib.
Berdasarkan draf rekonstruksi pergerakan yang diekstrak langsung dari sistem memori kendaraan, KNKT membeberkan rentetan kekeliruan fatal yang dilakukan oleh Richard Rudolf.
Ketika jalanan mulai menurun menuju arah perlintasan sebidang rel kereta api, mobil taksi tersebut pada mulanya melaju dalam posisi handle transmisi D atau drive secara normal dengan tingkat kecepatan berada di kisaran 15 kilometer per jam.
Namun secara mendadak, posisi handle transmisi justru sengaja digeser oleh pengemudi hingga berpindah ke posisi N atau netral, sehingga memicu mobil meluncur bebas ke bawah dengan tingkat kecepatan yang merosot di angka 3 sampai 7 kilometer per jam tanpa draf kendali mesin yang optimal.
Pengemudi terpantau terus membiarkan laju mobil taksi meluncur bebas sembari sesekali melakukan draf tindakan pengereman ringan di jalur turunan ekstrem tersebut. Begitu posisi roda kendaraan sudah terlanjur masuk dan berada tepat di atas perlintasan sebidang, pengemudi baru menyadari bahaya dan berupaya menekan pedal gas hingga draf kedalaman 25 persen.
Namun lantaran posisi transmisi masih tersangkut di mode N, mobil tentu saja tidak memberikan respon akselerasi maju dan tetap meluncur pasif. Richard yang panik kemudian terus menginjak pedal gas lebih dalam hingga menyentuh angka 51 persen, namun kecepatan mobil justru merosot tajam hingga menyentuh angka nol akibat mesin tidak terhubung ke roda.
Memasuki detik-detik krusial pada pukul 20.46.43 WIB, draf rekaman mencatat posisi tuas transmisi sempat digeser kembali oleh pengemudi menuju mode D atau drive, namun sayang pada draf momentum emas tersebut Richard justru kedapatan tidak menginjak pedal gas sama sekali.
Rentetan kepanikan tersebut ditutup dengan tindakan pengemudi yang memindahkan paksa handle transmisi ke posisi P atau parkir, di mana setelahnya Richard secara acak menginjak gas, menginjak rem, serta menekan tombol on-off secara berulang kali, namun karena sistem transmisi telanjur terkunci di posisi P, bodi mobil taksi hijau tersebut mutlak tidak dapat digerakkan lagi hingga akhirnya dihantam dengan keras oleh laju KRL yang melintas.














