Sebut Perang Irak Keputusan Bodoh, Donald Trump Tegaskan AS Harusnya Tak Masuk Timur Tengah

JurnalPatroliNews – Washington – Pemimpin tertinggi pemerintahan Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka melayangkan pengakuan mengejutkan dengan menyebut negaranya seharusnya tidak pernah terjun ke dalam kancah pertempuran di kawasan Timur Tengah.

Trump blak-blakan mengakui bahwa kebijakan pengerahan kekuatan militer Pentagon dalam Perang Irak di masa lampau merupakan sebuah lembaran kesalahan besar yang memicu dampak sistemik panjang bagi Washington.

Pernyataan bernada penyesalan tersebut dilontarkan oleh Trump saat melakoni sesi wawancara khusus bersama media Fox News, sebagaimana dikutip oleh saluran AlJazeera pada hari Minggu ini.

Dalam pemaparannya mengenai geopolitik dunia, Trump menilai keputusan intervensi bersenjata di Irak tersebut merupakan sebuah langkah yang sangat buruk dan tergolong sebagai keputusan yang bodoh.

Kendati menilai AS semestinya absen dari Iran, Trump berargumen bahwa operasi gempuran udara yang dilancarkan pasukannya pada medio Juni dua ribu dua puluh lima silam tetap absah demi membendung ambisi kepemilikan senjata pemusnah massal oleh Teheran.

Politisi senior ini mengklaim operasi pengeboman presisi menggunakan armada pesawat pembom siluman B-2 milik Angkatan Udara AS terbukti ampuh melumpuhkan tiga titik fasilitas nuklir utama milik Iran.

Menurut kalkulasi politik Trump, apabila sirkulasi penyerangan udara itu tidak dieksekusi kala itu, maka dipastikan faksi militer Iran sudah berhasil menggenggam kendali atas hulu ledak nuklir pada saat ini.

Keberhasilan Iran dalam merakit senjata nuklir dinilai bakal langsung merobek dan mengubah sirkulasi peta keseimbangan kekuatan politik serta militer di belahan Timur Tengah secara drastis.

Siasat Diplomasi Santai Washington Hingga Misteri Penyelamatan Struktur Utama Komando Militer Teheran

Di sisi lain, sirkulasi perundingan meja bundar antara pihak Washington dan Teheran terus dipacu guna menyudahi konflik bersenjata yang pecah imbas agresi gabungan AS-Israel sejak Februari lalu.

Meski sirkulasi komunikasi diplomatik tersebut terpantau belum menghasilkan keputusan pemungkas, Trump menegaskan pihak Gedung Putih sama sekali tidak berada dalam posisi tergesa-gesa.

Trump memilih menerapkan sirkulasi negosiasi secara perlahan namun pasti guna memastikan negaranya mengantongi poin-poin kesepakatan terbaik sesuai dengan target yang telah digariskan.

Walau saat ini Washington mengunci prioritas utama pada sirkulasi jalur damai, Trump memastikan opsi pengerahan kekuatan tempur jilid dua tetap terbuka lebar jika perundingan berujung pada jalan buntu.

Dalam kesempatan wawancara yang sama, Trump membongkar rahasia bahwa militer AS sengaja tidak meratakan seluruh struktur kekuatan bersenjata Iran pada masa peperangan kemarin.

Langkah penahanan diri tersebut diambil lantaran pihak Washington memetakan bahwa barisan perwira militer Iran yang tersisa saat ini diidentifikasi memiliki pandangan yang cukup moderat.

Pihak Pentagon menegaskan sirkulasi gempuran rudal sebelumnya hanya ditargetkan secara khusus untuk menghabisi kelompok-kelompok garis keras non-moderat yang dinilai berbahaya bagi stabilitas global.

Hingga kini, salah satu materi krusial yang terus diperdebatkan dalam klausul perjanjian adalah kelanjutan program pengayaan uranium Iran serta jaminan pembukaan blokade di Selat Hormuz.

Jalur maritim internasional tersebut bertindak sebagai urat nadi logistik global yang mengontrol sirkulasi perlintasan sekitar dua puluh persen dari total pasokan komoditas minyak mentah dunia.