JurnalPatroliNews – Jakarta – Anggaran pertahanan nasional yang selama ini kerap dipandang sebagai beban finansial negara dinilai perlu segera mengalami pergeseran paradigma secara mendasar.
Di tengah ketatnya dinamika geopolitik global dan persaingan teknologi, sektor militer harus mampu bertransformasi menjadi salah satu motor penggerak industrialisasi domestik.
Gagasan strategis tersebut ditegaskan oleh Marsda TNI Dr. Budhi Achmadi, M.Sc., melalui tulisan ilmiahnya yang mengulas tentang tata kelola ekonomi pertahanan modern.
Ia menyatakan bahwa belanja pertahanan sepatutnya diposisikan sebagai investasi strategis jangka panjang yang mampu melahirkan efek pengganda (multiplier effect) bagi perekonomian bangsa.
“Pertahanan tidak harus menjadi beban anggaran negara, melainkan dapat menjadi mesin pertumbuhan nasional apabila dikelola secara tepat dan terintegrasi dengan pembangunan ekonomi,” ujar Marsda TNI Budhi Achmadi pada Kamis (11/6/2026).
Budhi memaparkan bahwa pemikiran ini sejalan dengan pandangan Profesor Ron Matthews dari King’s College London mengenai indikator keberhasilan pembangunan militer.
Menurut konsep tersebut, kekuatan pertahanan sebuah negara tidak hanya diukur dari kuantitas alutsista, melainkan dari kemampuan menyerap pengeluaran menjadi kapasitas industri.
Melalui integrasi yang tepat, negara dipastikan akan meraup dua keuntungan utama sekaligus, yakni dividen keamanan (security dividend) serta dividen ekonomi (economic dividend).
Potensi Geografis Indonesia dan Pelajaran Penting dari Korsel-Turki
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang berada di jantung kawasan Indo-Pasifik, Indonesia dinilai memiliki alasan yang sangat kuat untuk menerapkan konsep ini.
Kebutuhan akan modernisasi armada tempur berteknologi tinggi harus dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas riset, memperluas lapangan kerja, dan menaikkan keterampilan tenaga kerja.
Ia mencontohkan proses pengadaan pesawat tempur, kapal perang, satelit, hingga sistem siber yang wajib melibatkan serta memperkuat ekosistem industri dalam negeri.
Dalam paparannya, Budhi menyoroti keberhasilan dramatis Korea Selatan yang bertransformasi dari negara importir alutsista menjadi salah satu eksportir militer utama dunia.
Langkah serupa sukses ditunjukkan oleh Turki dalam dua dekade terakhir lewat pengembangan industri pertahanan domestik yang berbasis pada riset mendalam serta inovasi.
“Ekspor drone, kendaraan tempur, kapal perang, dan sistem elektronika pertahanan telah menciptakan lapangan kerja, meningkatkan devisa negara, sekaligus memperkuat posisi diplomasi Turki,” jelasnya.
Membangun Basis Industri Komprehensif dan Efek Tumpahan Teknologi
Budhi menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki modal fondasi yang kokoh melalui eksistensi berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) industri strategis saat ini.
Tantangan utama ke depan adalah merajut ekosistem Defence Industrial Base yang menghubungkan industri, universitas, lembaga riset, dan militer sebagai pengguna akhir.
Investasi di sektor pertahanan terbukti menjadi hulu dari lahirnya berbagai inovasi teknologi sipil dunia seperti jaringan internet, GPS, hingga kecerdasan buatan (AI).
Fenomena technology spillover effect ini harus diarahkan agar hasil riset pertahanan Indonesia bisa didayagunakan untuk sektor transportasi, kesehatan, dan pertanian.
Selain pasar domestik, Indonesia memiliki peluang masif untuk melakukan penetrasi ekspor produk pertahanan ke wilayah Asia Tenggara, Afrika, Timur Tengah, hingga Pasifik.
Komoditas seperti pesawat angkut ringan, kapal patroli cepat, kendaraan taktis, hingga amunisi dinilai memiliki daya saing yang sangat kuat di pasar global.
Menuju Defence Economy 5.0 Menyambut Indonesia Emas 2045
Sebagai peta jalan masa depan, Budhi menawarkan sebuah cetak biru baru yang dinamakan sebagai konsep Defence Economy 5.0.
Konsep ini mengintegrasikan sektor keamanan, industri manufaktur, teknologi digital, kecerdasan buatan, ekonomi hijau, dan program pembangunan nasional.
Terdapat lima sasaran utama yang dibidik, yaitu militer yang kredibel, kemandirian industri, penguasaan teknologi kunci, peningkatan ekspor, dan efek pengganda ekonomi.
“Kekuatan pertahanan yang sesungguhnya adalah kemampuan mengubah investasi pertahanan menjadi kekuatan ekonomi, teknologi, dan industri yang berkelanjutan,” tegas Budhi.
Ia menambahkan bahwa dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045, sektor pertahanan harus mampu memproduksi dividen keamanan, ekonomi, sekaligus teknologi secara simultan.
Melalui konsistensi implementasi kebijakan ini, sektor pertahanan akan berdiri tegak sebagai penjaga kedaulatan sekaligus mesin utama kemandirian Indonesia di abad ke-21.















Komentar