JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberikan apresiasi tinggi atas gerak cepat jajaran pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) dalam menstabilkan perekonomian nasional.
Menurut pengamatan SBY, langkah intervensi taktis dari otoritas keuangan tersebut sukses menghentikan tren pelemahan dan memicu penguatan signifikan pada sektor pasar saham serta nilai tukar Rupiah.
Melalui keterangan resminya pada Rabu (10/6/2026), SBY menyambut gembira tren positif yang terjadi sepanjang perdagangan tanggal 9 hingga 10 Juni tersebut sebagai sebuah awal yang baik.
SBY secara khusus menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya mampu menakhodai kepemimpinan nasional dengan kendali penuh di tengah tekanan ekonomi global.
Ia menegaskan bahwa pemerintah saat ini masih memiliki kalkulasi sumber daya politik dan ekonomi yang sangat memadai untuk meredam gejolak serta melahirkan opsi solusi fiskal maupun moneter.
Sinergi yang dibangun antara Bank Indonesia dan kabinet pemerintahan di bawah Presiden Prabowo terbukti efektif menghentikan proses rontoknya nilai tukar mata uang domestik yang sempat terjadi secara beruntun.
“Alhamdulillah, ada ‘good news’ untuk kita semua, semoga ini merupakan awal dan pertanda baik ~ ‘a good beginning’,” tulis Susilo Bambang Yudhoyono.
Rekomendasi Pengamanan Fiskal dan Proteksi Rakyat Kecil
Kendati indikator pasar mulai memperlihatkan arah pemulihan, SBY tetap mengingatkan jajaran otoritas agar tidak lengah dalam mengawal stabilitas keuangan ke depan.
Tokoh bangsa ini mendesak pemerintah untuk terus konsisten menyehatkan postur APBN serta memperketat pembatasan jumlah utang luar negeri secara berkala.
Selain itu, langkah mitigasi wajib difokuskan untuk mencegah lonjakan harga barang dan jasa yang berpotensi menurunkan tingkat kesejahteraan hidup masyarakat luas.
SBY juga menggarisbawahi pentingnya pemulihan kepercayaan investor global melalui skema komunikasi kebijakan publik yang jauh lebih efektif, transparan, dan bebas dari unsur spekulasi.
Berdasarkan pengalamannya memimpin Indonesia selama dua periode, ia memahami betul bahwa memulihkan ekosistem ekonomi yang bergejolak membutuhkan waktu dan konsistensi tinggi.
Oleh karena itu, ia meminta perhatian khusus dari Presiden Prabowo untuk tetap melindungi daya beli masyarakat lapisan bawah yang paling terdampak oleh kebijakan penyesuaian harga BBM.
“Perlu dukungan publik yang lebih kuat, ingat, ‘in crucial thing, unity’ dan ‘in important thing, dialogue’,” pungkas SBY.
Rekor Intervensi Moneter dan Lompatan Indeks Saham Gabungan
Pergerakan nilai tukar Rupiah sebelumnya sempat mencatatkan rekor pelemahan terdalam sepanjang sejarah perdagangan intraday dengan menyentuh level Rp18.234 per dolar AS.
Lonjakan tersebut langsung diredam oleh Bank Indonesia lewat intervensi pasar serta pengetatan regulasi pembelian valuta asing maksimal sebesar USD 25.000 per bulan tanpa dokumen underlying.
Kebijakan restriktif tersebut sukses menahan laju spekulasi mata uang hingga Rupiah perlahan menguat kembali menuju kisaran Rp17.971 hingga Rp18.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan.
Sementara itu, performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat anjlok parah ke level 5.340 akibat aksi jual masif juga berhasil rebound dengan sangat impresif.
Pembalikan arah pasar saham dipicu oleh respons cepat DPR yang menggelar pertemuan strategis bersama pihak perbankan guna menggulirkan wacana kebijakan buyback saham.
Sentimen positif tersebut mendongkrak IHSG melonjak tajam sebesar 7,57 persen ke level 5.746 dalam sehari, sebelum akhirnya ditutup menguat di posisi 5.902 dengan total akumulasi kenaikan di atas 10 persen.
Secara makro, perwakilan pemerintah menyatakan ketahanan APBN masih berada dalam kondisi sehat yang ditopang oleh pertumbuhan ekonomi kuartal I sebesar 5,61 persen serta inflasi yang aman di angka 3,08 persen.














Komentar