“Kok Itu-Itu Aja?” Megawati Minta Menu MBG Lebih Beragam

JurnalPatroliNews | Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya soal pemenuhan kebutuhan gizi. Bagi Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri, keberagaman makanan juga layak menjadi perhatian dalam penyusunan menu program tersebut.

Megawati bahkan mengaku pernah menyampaikan langsung persoalan itu kepada Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Megawati, Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang sangat beragam. Karena itu, menu MBG dinilai tidak harus terus menggunakan jenis makanan yang sama.

Cerita tersebut disampaikan Megawati dalam acara Ekspos Naskah Sumber Arsip Dasar Negara II yang digelar BPIP RI, Senin (10/8/2026).

Megawati mengatakan dirinya memiliki hubungan pertemanan yang sudah berlangsung lama dengan Prabowo. Karena itu, ia merasa tidak sungkan menyampaikan pandangannya mengenai pelaksanaan MBG.

“Ini saya bilang pada Pak Prabowo urusan MBG. Saya bilang sebagai ibu loh, saya sama beliau tuh temenan dari jaman dulu,” ujar Megawati.

Dalam percakapan tersebut, Megawati mengaku melihat menu MBG cenderung berulang.

Ia kemudian mengingatkan bahwa Indonesia memiliki banyak pilihan makanan khas dari berbagai daerah yang dapat menjadi inspirasi menu.

Menurut Megawati, kekayaan kuliner Nusantara semestinya bisa dimanfaatkan untuk membuat menu MBG lebih beragam tanpa menghilangkan aspek pemenuhan gizi.

“Mas, makanannya saya lihat kok itu-itu aja toh yo. Loh mbok ya kan daerah kita ini macam-macam ya. Mbok ada rendang sekali-kali,” kata Megawati menirukan ucapannya kepada Prabowo.

Usulan tersebut, menurut Megawati, justru disambut tawa oleh Prabowo.

“Ketawa beliau. Bener dong. Kan cuma itu-itu aja toh,” lanjutnya.

Megawati memilih rendang sebagai salah satu contoh makanan daerah yang menurutnya dapat sesekali hadir dalam menu MBG.

Rendang merupakan salah satu kuliner khas Indonesia yang dikenal luas, khususnya berasal dari Sumatera Barat.

Namun, inti usulan Megawati bukan semata-mata memasukkan rendang ke dalam menu.

Ia ingin keberagaman pangan daerah menjadi bagian dari konsep MBG sehingga anak-anak Indonesia juga dapat mengenal kekayaan kuliner Nusantara melalui makanan yang mereka konsumsi.

Dengan begitu, program pemenuhan gizi juga dapat memiliki dimensi edukasi budaya.

Program MBG memiliki tujuan utama memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat.

Namun, keberagaman menu dapat menjadi salah satu aspek pendukung agar makanan yang diberikan tidak monoton dan lebih menarik bagi penerima.

Dari perspektif Megawati, makanan yang disajikan kepada anak-anak juga dapat memperkenalkan karakter pangan dari berbagai wilayah Indonesia.

Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang berbeda-beda dari Sabang sampai Merauke.

Karena itu, menu makanan yang diberikan secara berkala dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai bahan pangan lokal sekaligus mendorong konsumsi produk dari daerah.

Di sela cerita mengenai MBG dan Prabowo, Megawati juga menyampaikan pesan kepada para ibu.

Ia meminta kaum ibu tidak perlu merasa takut menyampaikan pandangan maupun kritik mengenai program yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Megawati bahkan mengaitkan pernyataannya dengan latar belakang pendidikannya di bidang psikologi.

“Ibu-ibu tuh nggak usah takut, kok ini kalau saya lihat terus tegang gitu loh. Loh saya pernah kuliahnya di psikologi loh makanya mau tahu,” ujar Megawati.

Ia kemudian berseloroh mengenai statusnya sebagai Presiden kelima RI dan latar belakang akademiknya.

“Kan saya cuma dibilang presiden ke-5. Profesor saya tiga loh,” pungkasnya.

Pernyataan Megawati membuka perspektif lain mengenai program MBG.

Program tersebut tidak hanya dapat dilihat dari sisi distribusi makanan bergizi, tetapi juga berpotensi menjadi sarana memperkuat konsumsi pangan lokal.

Jika menu disusun dengan mempertimbangkan kekayaan bahan pangan daerah, pelaksanaan MBG berpotensi menciptakan permintaan yang lebih besar terhadap produk pertanian, peternakan, perikanan, dan pangan olahan lokal.

Dengan demikian, satu porsi makanan bukan hanya memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat.

Di dalamnya juga terdapat peluang menghubungkan program sosial dengan ekonomi daerah.

Rendang yang disebut Megawati pada akhirnya hanya menjadi contoh kecil dari begitu luasnya kekayaan pangan Indonesia.

Setiap daerah memiliki makanan khas dengan karakter bahan dan cita rasa berbeda.

Keberagaman tersebut dapat menjadi inspirasi dalam menyusun menu yang tetap memenuhi standar gizi sekaligus sesuai dengan ketersediaan pangan lokal.

Usulan Megawati kepada Prabowo pun dapat dibaca sebagai dorongan agar MBG tidak berhenti pada pertanyaan mengenai berapa banyak makanan yang dibagikan.

Lebih jauh, program tersebut juga dapat memperhatikan apa yang disajikan, dari mana bahan pangannya berasal, dan bagaimana makanan tersebut dapat memberikan pengalaman yang lebih beragam bagi penerima manfaat.

Pada akhirnya, pesan Megawati sederhana: kalau Indonesia punya begitu banyak makanan khas, mengapa menu MBG harus terus terasa “itu-itu saja”?

Komentar