JurnalPatroliNews | Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat strategi pengelolaan sampah dengan menitikberatkan pada perubahan perilaku masyarakat melalui Gerakan Pilah Sampah. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menargetkan jumlah residu sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dapat ditekan hingga di bawah 20 persen.
Target tersebut disampaikan Pramono saat membuka Jakarta Eco Future Fest (JEFF) 2026 di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (3/7/2026). Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak cukup diukur dari pencapaian penghargaan, melainkan dari berkurangnya volume sampah yang harus dibuang ke TPA.
“Saya meyakini bahwa gerakan ini bukan hanya sekadar mendapatkan rekor MURI. Yang lebih penting adalah implementasinya di lapangan. Kalau residu yang diangkut ke tempat pembuangan akhir bisa di bawah 25 persen, bahkan 20 persen, itulah ukuran bahwa penanganan sampah Jakarta semakin baik,” ujar Pramono.
Pramono mengungkapkan, Gerakan Pilah Sampah mendapat respons positif sejak diterbitkannya Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026. Program tersebut kini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari komunitas lingkungan, pengurus RT dan RW, hingga Abang None Jakarta.
Salah satu capaian yang berhasil diraih adalah terciptanya 6.336 partisipan eco enzyme, yang mengantarkan Jakarta memperoleh rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Berbagai komunitas, termasuk Recosystem, juga disebut aktif mengampanyekan pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat.
Menurut Pramono, tingginya antusiasme warga bahkan melampaui perkiraan pemerintah daerah. Hal itu terlihat dari meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta apresiasi yang diberikan kepada RT dan RW atas keberhasilan mengelola sampah di wilayah masing-masing.
Sebagai bagian dari penguatan program, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga meresmikan Bank Sampah Balai Kota. Pramono menegaskan fasilitas tersebut harus menjadi contoh nyata pengelolaan sampah di lingkungan pemerintahan, bukan sekadar simbol atau kegiatan seremonial.
“Saya minta ini ditangani secara baik, jangan hanya seremonial. Saya tidak ingin hanya berhenti sebagai seremoni,” tegasnya.
Selain membangun kesadaran masyarakat, Pemprov DKI juga memperkuat infrastruktur pengolahan sampah melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), optimalisasi fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan dan RDF Bantargebang, serta pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.
Pramono optimistis kombinasi perubahan perilaku masyarakat dan penguatan infrastruktur tersebut mampu mengatasi timbulan sampah Jakarta yang saat ini mencapai sekitar 9.000 ton setiap hari.
Di sisi lain, ia menyebut upaya menjaga kebersihan lingkungan mulai menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data pemerintah daerah, jumlah kawasan RW kumuh di Jakarta menurun signifikan dari 445 RW pada 2017 menjadi 211 RW pada 2026.
Menurutnya, pencapaian tersebut tidak terlepas dari kontribusi RT, RW, kader PKK, dasawisma, jumantik, serta berbagai elemen masyarakat yang secara konsisten menjaga kebersihan lingkungan.
Ke depan, Pramono berharap Gerakan Pilah Sampah tidak lagi dipandang sebagai program pemerintah semata, melainkan menjadi budaya dan gaya hidup masyarakat Jakarta dalam mewujudkan kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
“Saya berharap Gerakan Pilah Sampah ini benar-benar menjadi gaya hidup masyarakat Jakarta,” pungkasnya.















Komentar