Israel Klaim Sasar Militan, Serangan di Gaza Tewaskan Tiga Orang

JurnalPatroliNews | Gaza โ€” Serangkaian serangan Israel kembali menewaskan warga Palestina di Jalur Gaza pada Sabtu (19/9/2026). Sedikitnya tiga orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk Basir Al-Bursh, putra Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir Al-Bursh.

Kematian Basir terjadi dalam serangan di sekitar kamp pengungsi Jabalia, Gaza utara. Informasi mengenai korban disampaikan otoritas kesehatan Gaza dan keluarga korban, sementara militer Israel menyatakan bahwa Basir termasuk salah satu militan yang menjadi sasaran serangan mereka.

Munir Al-Bursh terlihat membawa jenazah putranya yang dibungkus selimut menuju rumah sakit. Dalam rekaman yang diperoleh Reuters, Munir tampak berduka bersama para pelayat di Rumah Sakit Al-Shifa.

Menurut keterangan Munir yang dikutip Reuters, ia sempat berada bersama putranya di dalam tenda sebelum Basir keluar dan kemudian terkena serangan.

Militer Israel Sebut Targetnya Militan

Serangan pada Sabtu tersebut tidak hanya terjadi di Jabalia.

Menurut laporan Reuters, satu orang tewas dalam serangan di kawasan Shejaia, sebelah timur Kota Gaza. Serangan lain menghantam sebuah kendaraan di kawasan Sheikh Radwan, Kota Gaza, dan menewaskan satu orang.

Militer Israel menyatakan serangan di Sheikh Radwan menargetkan seorang anggota Hamas. Namun, rincian lebih lanjut mengenai operasi tersebut belum disampaikan secara terbuka.

Dengan demikian, laporan mengenai korban dan sasaran serangan berasal dari dua pihak yang berbeda. Otoritas kesehatan Gaza melaporkan korban jiwa, sedangkan militer Israel menyatakan sebagian serangan diarahkan kepada militan.

Putra Pejabat Kesehatan Gaza Jadi Korban

Kematian Basir Al-Bursh mendapat perhatian karena ayahnya merupakan pejabat senior pada Kementerian Kesehatan Gaza.

Munir Al-Bursh sebelumnya juga kehilangan seorang putrinya dalam serangan udara Israel pada Desember 2023, menurut keterangan keluarga dan tenaga medis yang dikutip Reuters. Munir juga mengalami luka dalam serangan tersebut.

Kematian anggota keluarga pejabat kesehatan tersebut kembali memperlihatkan kondisi yang masih berlangsung di Gaza, meskipun gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat telah menghentikan pertempuran berskala besar.

Gencatan Senjata Belum Menghentikan Serangan

Gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober 2025 memang menghentikan pertempuran besar-besaran, tetapi serangan dan operasi militer masih terus terjadi.

Reuters melaporkan lebih dari 1.300 warga Palestina telah tewas di Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan, menurut otoritas kesehatan Gaza. Pada periode yang sama, militer Israel menyatakan empat tentaranya tewas dalam serangan kelompok bersenjata.

Kedua pihak juga masih berbeda pandangan mengenai pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata.

Israel menuding Hamas belum memenuhi ketentuan terkait perlucutan senjata, sementara Hamas menuduh Israel melanggar kesepakatan melalui operasi militer dan serangan yang masih berlangsung.

Persoalan Penarikan Pasukan dan Perlunya Kesepakatan

Implementasi kesepakatan juga menghadapi persoalan mengenai penarikan pasukan Israel dari Gaza dan perlucutan senjata Hamas.

Reuters melaporkan upaya negosiasi mengenai dua persoalan tersebut belum menghasilkan kesepakatan yang memungkinkan proses rekonstruksi Gaza berjalan secara penuh.

Kondisi tersebut terjadi ketika sebagian besar wilayah Gaza masih menghadapi kerusakan berat. Puluhan ribu warga Palestina masih tinggal di tenda atau bangunan yang mengalami kerusakan akibat perang.

Pada pertengahan September, sebuah bangunan apartemen tujuh lantai yang sebelumnya rusak akibat serangan udara runtuh dan menewaskan sedikitnya 21 orang. Tim penyelamat mengatakan 45 orang berhasil dievakuasi dari reruntuhan.

Korban Sipil Terus Menjadi Sorotan

Situasi kemanusiaan di Gaza juga mendapat perhatian internasional. Pada 15 September, Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Tรผrk menyatakan penemuan lebih dari 630 jenazah dan sisa-sisa tubuh manusia dari bangunan yang hancur menimbulkan kekhawatiran mengenai kemungkinan pelanggaran hukum humaniter internasional.

Israel menolak tuduhan bahwa militernya sengaja menargetkan warga sipil dan menyatakan operasi militernya diarahkan kepada Hamas. Israel juga menuding Hamas beroperasi di tengah kawasan sipil.

Karena itu, perkembangan di Gaza masih menjadi persoalan yang melibatkan klaim dan bantahan dari kedua pihak, sementara korban jiwa terus dilaporkan meski gencatan senjata telah berlangsung sejak Oktober 2025.


Komentar