JurnalPatroliNews | New York — Presiden Iran Masoud Pezeshkian membalas pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pidatonya di Sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu (23/9/2026).
Sehari sebelumnya, Trump menggunakan panggung PBB untuk memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat “menghancurkan” Iran apabila tidak tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Pezeshkian kemudian tampil di forum yang sama dengan menolak tuduhan bahwa Iran merupakan negara teroris.
“Yang disebut teroris dan melatih teroris justru menyebut kami teroris,” kata Pezeshkian, merujuk pada tuduhan Trump terhadap Iran. Ia menegaskan rakyat Iran tidak akan tunduk pada tekanan, tetapi pada saat yang sama menyatakan Tehran tetap membuka jalur diplomasi.
Pezeshkian bahkan membawa foto korban serangan di Iran, termasuk anak-anak yang tewas dalam serangan terhadap sebuah sekolah dasar di Minab, Provinsi Hormozgan.
Menurut keterangan pemerintah Iran yang dikutip Reuters, serangan pada 28 Februari tersebut menewaskan lebih dari 175 anak dan guru. Amerika Serikat sebelumnya mengatakan operasi militernya dilakukan sesuai hukum konflik bersenjata, sementara investigasi Perserikatan Bangsa-Bangsa kemudian menemukan alasan yang masuk akal untuk menyimpulkan bahwa pasukan AS bertanggung jawab atas serangan tersebut dan menyatakan serangan itu merupakan kejahatan perang.
Pezeshkian: Iran Tidak Akan Tunduk
Dalam pidatonya, Pezeshkian mengatakan ancaman penggunaan kekuatan justru memperkuat sikap Iran.
Ia menanggapi langsung pernyataan Trump sehari sebelumnya yang mengatakan Washington menghadapi pilihan antara kesepakatan damai dengan Tehran atau tindakan militer lebih jauh.
“Kami siap untuk dialog, diplomasi, dan negosiasi tanpa menerima bahasa kekerasan,” ujar Pezeshkian.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Tehran masih menempatkan diplomasi sebagai salah satu jalur untuk mengakhiri konflik. Namun, Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan menerima negosiasi yang berlangsung di bawah tekanan militer.
Reuters melaporkan bahwa Pezeshkian juga menolak anggapan Iran akan menyerahkan program nuklirnya. Ia mengatakan negaranya tidak berniat membuat senjata nuklir, tetapi tetap mempertahankan hak atas teknologi dan program nuklir untuk tujuan damai.
Sorotan atas Serangan Minab
Kasus serangan ke sekolah di Minab menjadi salah satu bagian penting dalam pidato Pezeshkian.
Investigasi misi pencari fakta independen PBB yang dirilis September 2026 menyatakan terdapat alasan yang masuk akal untuk meyakini bahwa serangan Amerika Serikat terhadap sekolah dasar Shajareh Tayyebeh di Minab merupakan serangan terhadap objek sipil.
Misi tersebut menyebut lebih dari 150 orang tewas, termasuk sekitar 120 anak sekolah berdasarkan data pejabat Iran. Investigasi juga menyatakan sekolah tersebut merupakan objek sipil yang dapat dikenali dan tidak menemukan bukti bahwa bangunan itu digunakan untuk tujuan militer.
Meski demikian, laporan PBB tersebut merupakan temuan badan investigasi, bukan putusan pengadilan. Pentagon sebelumnya menyatakan belum mengumumkan hasil penyelidikan internalnya terkait serangan tersebut. Gedung Putih juga menolak temuan PBB dan menyatakan Iran sebagai pihak yang melakukan kejahatan perang.
Kontak AS-Iran Tetap Berlangsung
Di tengah pertukaran pernyataan keras di forum PBB, komunikasi antara Washington dan Tehran ternyata tetap berlangsung melalui jalur tidak langsung.
Reuters melaporkan bahwa pejabat Iran dan utusan Amerika Serikat melakukan kontak melalui mediator, termasuk Qatar. Komunikasi tersebut menjadi kontak tidak langsung yang diketahui publik setelah gencatan senjata sebelumnya runtuh.
Menurut pejabat Iran yang dikutip Reuters, kedua negara masih memiliki banyak perbedaan mengenai cara mengakhiri perang. Tehran disebut tengah menelaah respons Washington terhadap sejumlah proposal, termasuk mengenai pencabutan blokade angkatan laut AS dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Amerika Serikat juga menyatakan komunikasi tersebut bukan terobosan besar. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut pertukaran pesan itu sebagai kelanjutan komunikasi sebelumnya, bukan kesepakatan baru.
Selat Hormuz dan Program Nuklir Jadi Pokok Perselisihan
Selain program nuklir, Selat Hormuz menjadi salah satu titik penting dalam konflik Amerika Serikat dan Iran.
Dalam pidatonya, Pezeshkian menyinggung keberadaan armada asing di kawasan tersebut dan menilai perluasan perang tidak akan menghasilkan perdamaian.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Reuters menyebut sebelum perang, jalur tersebut menjadi lintasan sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.
Sementara Washington tetap menempatkan isu nuklir sebagai salah satu fokus utama dalam setiap kemungkinan perundingan.
Dengan demikian, pidato Pezeshkian di PBB tidak hanya menjadi respons terhadap ancaman Trump, tetapi juga memperlihatkan dua jalur yang berjalan bersamaan: pertukaran pernyataan keras di ruang publik dan komunikasi diplomatik melalui mediator.
Konflik yang telah berlangsung hampir tujuh bulan itu masih menyisakan perbedaan besar antara kedua negara. Namun, pernyataan Pezeshkian di PBB memperlihatkan bahwa Tehran masih menyatakan kesediaannya untuk berunding, dengan syarat proses tersebut tidak dilakukan melalui tekanan atau ancaman penggunaan kekuatan.











Komentar