Basarnas Belum Menutup Pencarian, Bangkai KM Virgo Akan Diangkat Bulan Ini

JurnalPatroliNews | Banjarmasin — Penanganan tragedi KM Virgo Transport 8 memasuki tahap baru. Di tengah pencarian 55 korban yang hingga kini belum ditemukan, manajemen kapal memastikan proses salvage atau pengangkatan bangkai kapal di Laut Jawa ditargetkan berlangsung pada Oktober 2026.

Kepastian tersebut disampaikan Juru Bicara PT Virgo Karya Shipping, Simson Fransiscus Rihi, setelah perusahaan mempercepat komunikasi dengan pihak asuransi internasional Protection and Indemnity (P&I).

Menurut Simson, perusahaan telah mengerucutkan pilihan kepada salah satu calon pelaksana salvage. Namun, nama perusahaan tersebut belum diumumkan karena proses penunjukan masih menunggu penyelesaian sejumlah data dan penandatanganan kesepakatan.

“Insya Allah dalam beberapa hari ke depan penandatanganan. Karena ada beberapa hal yang mesti dilengkapi lagi, data yang harus kami support kepada para pengambil keputusan di P&I,” ujar Simson dalam konferensi pers perkembangan operasi SAR di Banjarmasin, Sabtu (3/10/2026).

Pengangkatan Kapal Dikebut Bulan Ini

PT Virgo Karya Shipping mengatakan proses administratif untuk menentukan mitra salvage terus dipercepat.

Perusahaan juga memperoleh dukungan dari Kementerian Perhubungan, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta Basarnas untuk mendorong pihak asuransi segera mengambil keputusan.

Bagi perusahaan, pengangkatan kapal merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Namun proses tersebut membutuhkan perhitungan teknis karena di dalam bangkai kapal masih diyakini terdapat korban yang belum ditemukan.

Simson memastikan perkiraan kedatangan pelaksana salvage akan berlangsung pada bulan ini setelah seluruh proses penunjukan selesai.

Dengan demikian, target pengangkatan bukan sekadar persoalan mengangkat badan kapal dari dasar laut. Operasi harus memperhitungkan kondisi fisik kapal, keselamatan tim dan kemungkinan keberadaan korban di dalam bangkai kapal.

Kemenhub Beri Teguran

Kepala KSOP Kelas I Banjarmasin Heri Purwanto mengatakan Kementerian Perhubungan telah memberikan teguran keras kepada PT Virgo Karya Shipping agar segera melakukan pengangkatan kapal.

Menurut Heri, permintaan percepatan tersebut berkaitan dengan masih adanya korban yang belum ditemukan.

“Kementerian Perhubungan hanya bisa sebatas menegur dan memerintahkan segera. Tapi semuanya itu tergantung dari pihak asuransi, seberapa cepat pelaksanaan salvage ini,” ujar Heri.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa keputusan teknis dan pendanaan salvage masih berkaitan erat dengan mekanisme asuransi P&I. Sebelumnya, pihak perusahaan juga menyatakan proses pengangkatan menunggu keputusan dari pihak asuransi setelah seluruh data teknis dipenuhi.

188 Orang Sudah Ditemukan

Sementara proses pengangkatan kapal dipersiapkan, operasi pencarian korban telah memasuki hari ke-21.

Basarnas mencatat hingga Sabtu (3/10/2026) pukul 22.00 WITA, sebanyak 188 orang dari total 243 orang dalam manifes KM Virgo Transport 8 telah ditemukan.

Rinciannya, 108 orang berhasil diselamatkan, sedangkan 80 orang meninggal dunia.

Masih terdapat 55 orang yang belum ditemukan dan pencariannya terus dilakukan.

Angka tersebut menjadi dasar utama bagi pemerintah dan tim SAR untuk tetap melakukan operasi meskipun pendekatan pencarian telah mengalami penyesuaian.

Penyelaman Dihentikan, SAR Tetap Berjalan

Setelah memasuki hari ke-21, Basarnas melakukan evaluasi terhadap metode pencarian.

Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan operasi SAR tidak ditutup. Namun, operasi penyelaman ke dalam bangkai kapal dihentikan karena kondisi jasad korban yang ditemukan setelah beberapa hari membuat pencarian bawah air tidak lagi efektif dalam kondisi saat itu.

Dengan demikian, penghentian penyelaman tidak sama dengan penghentian pencarian.

Tim SAR tetap melakukan pencarian terhadap korban yang kemungkinan terbawa arus atau berada di wilayah lain, sekaligus mempersiapkan langkah berikutnya terhadap bangkai kapal.

Tiga Wilayah Jadi Fokus Pencarian

Setelah evaluasi hari ke-21, operasi SAR disesuaikan dan dikoordinasikan melalui tiga wilayah kerja, yakni Banjarmasin, Palangka Raya dan Pontianak.

Posko utama di Banjarmasin tetap beroperasi dan masih melibatkan unsur dari berbagai instansi.

Personel dan unsur pendukung dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan operasi, tetapi struktur koordinasi utama tetap berjalan.

Basarnas menegaskan pencarian 55 korban yang belum ditemukan tetap menjadi perhatian.

Basarnas Tak Menutup Harapan

Syafii mengatakan operasi tidak dihentikan karena masih terdapat keyakinan bahwa korban yang belum ditemukan dapat dievakuasi, termasuk kemungkinan korban yang masih berada di dalam kapal.

“Operasi SAR tidak dihentikan, tidak ditutup,” ujar Syafii.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa perubahan metode operasi bukan berarti pencarian berakhir.

Dalam kondisi seperti ini, pengangkatan bangkai kapal dapat menjadi salah satu langkah penting untuk membuka kemungkinan pencarian lanjutan, tetapi pelaksanaannya harus dilakukan melalui metode salvage yang memperhitungkan kondisi kapal dan keselamatan operasi.

Bangkai Kapal Menjadi Titik Penting

Keberadaan bangkai KM Virgo Transport 8 kini menjadi bagian sentral dalam penanganan tragedi tersebut.

Di satu sisi, bangkai kapal menjadi lokasi yang diduga masih menyimpan korban yang belum ditemukan. Di sisi lain, kondisi kapal berada di dasar Laut Jawa sehingga pengangkatannya membutuhkan perencanaan khusus.

Sebelumnya, pihak perusahaan menjelaskan bahwa proses salvage harus memperhatikan risiko patahnya bagian badan kapal, potensi terganggunya proses evakuasi jasad serta kemungkinan pencemaran akibat oli atau bahan bakar yang terdapat di dalam kapal.

Karena itu, keputusan untuk mengangkat kapal tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan kecepatan, tetapi membutuhkan perhitungan teknis dan keselamatan.

Asuransi P&I Jadi Penentu

P&I atau Protection and Indemnity merupakan pihak asuransi yang saat ini terlibat dalam proses penentuan pelaksana salvage.

PT Virgo Karya Shipping menyatakan komunikasi dengan pihak P&I terus dilakukan. Data yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan juga sedang dilengkapi.

Perusahaan menyebut satu calon pelaksana telah menjadi pilihan utama, namun penunjukannya baru dapat diumumkan setelah penandatanganan resmi dilakukan.

Dengan proses tersebut, percepatan salvage kini berada pada titik penentuan: penyelesaian administrasi, keputusan asuransi, penandatanganan dan kesiapan teknis pelaksana.

Keluarga Masih Menunggu Kepastian

Di balik angka 55 korban yang belum ditemukan, terdapat keluarga yang masih menunggu kepastian mengenai nasib anggota keluarganya.

Karena itu, pencarian tidak hanya menjadi operasi teknis bagi Basarnas. Proses tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan keluarga untuk memperoleh kepastian dan menerima korban secara layak.

Hal inilah yang membuat Basarnas tetap mempertahankan operasi meskipun metode penyelaman telah dihentikan.

Bagi keluarga korban, setiap temuan memiliki arti besar untuk memastikan identitas dan kepastian status anggota keluarga mereka.

Oktober Menjadi Bulan Penentuan

Perkembangan dalam beberapa hari ke depan akan menentukan tahap berikutnya dalam penanganan KM Virgo Transport 8.

PT Virgo Karya Shipping menargetkan pelaksanaan salvage pada Oktober. Basarnas tetap melakukan pencarian di sejumlah wilayah meskipun penyelaman langsung ke bangkai kapal telah dihentikan.

Sementara itu, 55 korban masih belum ditemukan dari total 243 orang dalam manifes. Sebanyak 188 korban telah ditemukan, terdiri atas 108 orang selamat dan 80 orang meninggal dunia.

Bila proses penunjukan pelaksana salvage selesai sesuai target, pengangkatan bangkai kapal diharapkan dapat membuka tahapan baru dalam pencarian korban.

Namun, seluruh proses tersebut tetap bergantung pada kesiapan teknis, keputusan asuransi dan kemampuan pelaksana salvage menjalankan operasi dengan aman.

Tragedi KM Virgo Transport 8 kini memasuki fase yang menentukan: Basarnas masih memburu 55 korban, sementara perusahaan menyiapkan pengangkatan bangkai kapal pada Oktober. Di antara dua proses tersebut, harapan keluarga korban masih bertumpu pada satu tujuan—menemukan seluruh korban dan membawa mereka pulang.

Komentar