JurnalPatroliNews | Gaza — Suasana duka kembali menyelimuti Gaza City setelah sebuah serangan udara menghantam bangunan apartemen pada Sabtu (3/10/2026) dini hari. Sedikitnya lima warga Palestina tewas, termasuk empat perempuan, menurut pejabat kesehatan dan layanan pertahanan sipil Gaza yang dikutip Reuters.
Serangan terjadi ketika warga sedang berada di dalam rumah dan sebagian masih tertidur. Ledakan menghantam bagian bangunan, merusak sejumlah unit apartemen dan memicu kebakaran.
Di antara korban terdapat Maisa Abu Dawoud dan putrinya, Mary, dua warga Palestina beragama Kristen. Keduanya kemudian dibawa untuk dimakamkan di Gereja Saint Porphyrius di Kota Gaza.
Peristiwa tersebut menambah kembali daftar korban sipil ketika situasi di Gaza masih berada dalam kondisi yang rapuh di tengah pelaksanaan gencatan senjata.
Serangan Terjadi Saat Warga Terlelap
Saksi mata Ahmed al-Dahdouh mengatakan warga mendengar rentetan serangan dan ledakan keras pada dini hari.
Menurut kesaksiannya kepada Reuters, anak-anak yang sedang tidur terbangun karena ledakan dan berlarian keluar rumah dalam kondisi panik. Setelah situasi mulai mereda, warga mendatangi bangunan yang terkena serangan dan berusaha membantu korban yang tertimbun reruntuhan.
Bangunan apartemen tersebut dilaporkan mengalami kerusakan berat pada sejumlah bagian, sementara api membakar lokasi setelah serangan.
Upaya penyelamatan dilakukan warga bersama tim pertahanan sipil sebelum para korban dibawa untuk mendapatkan penanganan.
Ibu dan Anak Kristen Jadi Korban
Kematian Maisa dan Mary membawa duka khusus bagi komunitas Kristen Gaza yang jumlahnya relatif kecil dibandingkan keseluruhan populasi wilayah tersebut.
Jenazah keduanya dibawa ke Gereja Saint Porphyrius untuk dimakamkan. Kerabat dan warga datang memberikan penghormatan terakhir, termasuk sejumlah warga Muslim.
Salah satu kerabat, Fouad al-Najjar, menggambarkan kehilangan tersebut sebagai pukulan berat bagi keluarganya.
Pemakaman berlangsung dalam suasana duka, sementara Gereja Ortodoks Yunani Yerusalem menyampaikan belasungkawa dan kembali menyerukan perlindungan terhadap warga sipil serta penghentian kekerasan.
Israel Sebut Ada Target Hamas
Militer Israel mengonfirmasi telah melakukan serangan pada malam tersebut dan mengatakan sasaran operasi adalah Ali al-Amoudi, yang disebut Israel sebagai figur senior Hamas.
Sumber Hamas menyebut al-Amoudi sebagai pimpinan kantor politik Hamas di Gaza. Namun, hingga laporan Reuters diterbitkan, belum ada kepastian bahwa serangan terhadap target tersebut merupakan serangan yang sama dengan serangan apartemen yang menewaskan lima warga Palestina. Militer Israel masih melakukan peninjauan terhadap hasil serangan, sementara Hamas belum memberikan tanggapan mengenai klaim tersebut.
Perbedaan informasi tersebut membuat konteks serangan masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut dari kedua pihak.
Karena itu, fakta yang telah dikonfirmasi sejauh ini adalah adanya serangan udara terhadap sebuah bangunan apartemen di Gaza City yang menewaskan lima warga Palestina, sedangkan hubungan antara serangan tersebut dengan target yang disebut militer Israel belum dipastikan secara independen.
Warga Kembali Berhadapan dengan Reruntuhan
Serangan tersebut memperlihatkan bagaimana warga sipil tetap berada dalam situasi rentan meskipun terdapat kerangka gencatan senjata.
Begitu ledakan terjadi, warga sekitar menjadi pihak pertama yang bergerak untuk membantu. Mereka mencari korban di antara beton dan puing bangunan, sementara keluarga menunggu kabar mengenai orang-orang yang berada di dalam apartemen.
Pemandangan reruntuhan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Gaza.
Serangan terhadap kawasan permukiman juga memperbesar persoalan kemanusiaan yang sebelumnya telah dibebani kerusakan infrastruktur, kehilangan tempat tinggal dan terbatasnya akses terhadap layanan dasar.
Pemakaman Berlangsung di Saint Porphyrius
Gereja Saint Porphyrius kembali menjadi tempat berkumpulnya warga yang berduka.
Jenazah Maisa dan Mary dibawa ke kompleks gereja untuk dimakamkan setelah dievakuasi dari lokasi serangan. Kehadiran umat Muslim dalam prosesi tersebut memperlihatkan bagaimana ruang ibadah Kristen juga menjadi tempat bertemunya komunitas ketika tragedi menimpa warga.
Gereja tersebut sendiri telah lama menjadi salah satu tempat berlindung bagi warga Gaza selama konflik berlangsung.
Dalam pernyataan belasungkawa, Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem kembali meminta agar warga sipil dilindungi dan kekerasan dihentikan.
Gencatan Senjata Masih Rapuh
Serangan terbaru terjadi dalam situasi yang oleh berbagai pihak digambarkan sebagai gencatan senjata yang rapuh.
Israel menyatakan serangannya terhadap Hamas dilakukan karena menilai kelompok tersebut melakukan tindakan yang melanggar kesepakatan.
Hamas membantah tuduhan tersebut dan menuduh Israel juga melakukan tindakan yang merusak kesepakatan perdamaian.
Perselisihan mengenai siapa yang melanggar kesepakatan menjadi salah satu hambatan dalam mempertahankan gencatan senjata.
Reuters melaporkan bahwa sejak gencatan senjata Oktober tahun sebelumnya, sedikitnya 1.400 warga Palestina disebut tewas akibat tembakan Israel, sementara Israel menyatakan empat tentaranya tewas akibat serangan kelompok bersenjata di Gaza dalam periode yang sama.
Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun istilah gencatan senjata digunakan, kekerasan belum sepenuhnya berhenti.
Perundingan Perdamaian Menghadapi Hambatan
Kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat sebelumnya mencakup sejumlah agenda besar, termasuk rekonstruksi Gaza, pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel.
Namun pelaksanaan berbagai ketentuan tersebut belum berjalan mulus.
Persoalan keamanan, kehadiran pasukan, status persenjataan kelompok bersenjata dan mekanisme rekonstruksi menjadi bagian dari isu yang masih menghadapi perbedaan pandangan.
Dalam kondisi seperti itu, setiap serangan baru berisiko memperlebar ketidakpercayaan antara pihak-pihak yang terlibat.
Bagi warga sipil, konsekuensinya langsung terlihat dalam bentuk rumah yang rusak, korban jiwa dan ketidakpastian mengenai keamanan lingkungan tempat tinggal.
Ancaman terhadap Warga Sipil Kembali Disorot
Kematian empat perempuan dalam satu serangan memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi warga yang berada di kawasan permukiman.
Mereka bukan pihak yang menentukan jalannya operasi militer maupun perundingan politik, tetapi justru kerap berada di garis paling dekat dengan dampak kekerasan.
Kasus Maisa dan Mary juga memperlihatkan dimensi lain dari konflik tersebut. Keduanya merupakan bagian dari komunitas Kristen Gaza yang jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan mayoritas penduduk Muslim.
Namun dalam situasi perang, identitas agama tidak menghilangkan kerentanan warga sipil terhadap serangan.
Kepastian Fakta Masih Ditunggu
Ada sejumlah hal yang masih memerlukan penjelasan lebih lanjut, terutama mengenai target utama serangan, alasan operasinya dan apakah target yang disebut militer Israel berada di lokasi yang sama dengan apartemen tempat lima warga Palestina tewas.
Militer Israel mengatakan masih meninjau hasil serangan, sementara Hamas belum memberikan komentar mengenai klaim tersebut.
Karena itu, pemberitaan mengenai serangan ini perlu membedakan dengan jelas antara fakta yang telah dikonfirmasi, pernyataan masing-masing pihak dan informasi yang masih dalam tahap verifikasi.
Gaza Kembali Diterpa Duka
Serangan Sabtu dini hari itu kembali membawa warga Gaza pada situasi yang selama bertahun-tahun mereka kenal: ledakan, bangunan rusak, pencarian korban di antara puing dan keluarga yang menunggu kepastian.
Lima orang tewas dalam satu serangan, empat di antaranya perempuan. Maisa Abu Dawoud dan putrinya, Mary, kemudian dimakamkan di Saint Porphyrius dalam suasana duka yang dihadiri kerabat dan warga dari berbagai latar belakang.
Di tengah proses gencatan senjata yang belum sepenuhnya stabil, kematian tersebut kembali mengingatkan bahwa perlindungan warga sipil tetap menjadi persoalan utama.
Sementara Israel menyatakan serangan diarahkan kepada tokoh Hamas, hubungan antara target tersebut dan bangunan yang menewaskan lima warga masih belum dipastikan secara independen.
Bagi warga Gaza, persoalannya jauh lebih sederhana daripada perdebatan politik dan militer: malam yang seharusnya menjadi waktu beristirahat berubah menjadi kepanikan, dan pagi hari membawa kabar kematian lima orang. Di tengah gencatan senjata yang rapuh, pertanyaan terbesar tetap sama—berapa lama lagi warga sipil harus hidup di antara ancaman serangan dan ketidakpastian?













Komentar