Eling dan Waspada

Oleh: Yudi Latif

Bangsa ini tumbuh jasadnya, tetapi merapuh jiwanya. Kota menjulang, pembangunan gemilang, tetapi pikiran menumpul dan budi kehilangan keluhuran. Kita pandai meninggikan bangunan, tetapi alpa menegakkan kemanusiaan.

Negeri ini bagai kapal tanpa kompas. Para nakhodanya berebut kemudi, sementara penumpangnya kehilangan arah. Kemenangan dipuja tanpa menimbang kebenaran, popularitas diagungkan tanpa menguji kualitas. Ruang publik riuh oleh kata-kata yang menguap, janji yang kehilangan tanggung jawab, dan pencitraan yang menutupi kenyataan.

Inilah zaman edan, ketika kompas moral kehilangan utara. Kebaikan dicurigai, kejujuran ditertawakan, keburukan dibenarkan. Demokrasi kehilangan makna ketika kemasan mengalahkan isi, kebisingan menyingkirkan kebijaksanaan, dan keberanian tak lagi berpijak pada pengetahuan.

Di tengah zaman yang jungkir balik, kita memerlukan eling dan waspada. Eling berarti tak lupa diri di tengah kuasa, tak silau oleh pujian, dan tak kehilangan tujuan di tengah gemerlap dunia. Waspada berarti membaca zaman dengan kejernihan nalar dan ketajaman nurani. Sebab, tak setiap cahaya menuntun ke jalan yang benar; ada yang menyilaukan agar kita tak melihat jurang.

Pikiran adalah pelita kehidupan, karakter adalah akar peradaban. Tanpa nalar yang jernih, kita kehilangan arah; tanpa watak yang teguh, kebenaran mudah ditukar dengan keuntungan. Segala kemajuan menjadi hampa ketika manusia kehilangan martabatnya.

Kita mungkin tak mampu mengubah arah angin, tetapi masih dapat menjaga kemudi. Keberanian sejati terkadang bukan mengikuti arus, melainkan tetap tegak ketika dunia meninggalkan kebenaran.

Elinglah agar tak kehilangan arah. Waspadalah agar tak diperdaya keadaan. Sebab, kemuliaan bangsa bukan terletak pada megahnya bangunan, melainkan pada luhur budi manusianya.

Selama nurani menyala, harapan belum binasa. Eling dalam pikir dan zikir, waspada dalam laku dan ikhtiar. Di sanalah cahaya kemanusiaan terjaga dan jalan menuju kemuliaan tetap terbuka.

Komentar