JurnalPatroliNews | Situbondo — Prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama Angkatan Bersenjata Australia atau Australian Defence Force (ADF) menggelar latihan bertahan hidup (survival training) dalam rangka Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Keris Woomera 2026 di Pusat Latihan Tempur Marinir (Puslatpurmar) 5 Baluran, Situbondo, Jawa Timur, Jumat (16/10/2026).
Latihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan prajurit dalam menghadapi situasi darurat di alam terbuka, terutama ketika beroperasi di medan yang menantang dan menghadapi keterbatasan dukungan logistik.
Melalui kegiatan ini, personel kedua negara mendapatkan pembekalan mengenai pengetahuan dasar bertahan hidup, kewaspadaan terhadap kondisi lingkungan, serta kemampuan mengambil keputusan secara tepat ketika menghadapi situasi yang tidak ideal selama operasi.
Kenali Sumber Makanan dan Waspadai Bahaya Alam
Salah satu materi latihan berfokus pada pengenalan tumbuhan, dedaunan, dan satwa yang berpotensi menjadi sumber makanan dalam situasi darurat.
Para prajurit mempelajari pentingnya membedakan sumber makanan yang dapat dikonsumsi dari unsur alam yang berbahaya atau berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.
Pengetahuan tersebut menjadi bagian penting dalam pembekalan kemampuan bertahan hidup, khususnya ketika personel berada jauh dari dukungan logistik dan fasilitas pendukung.
Selain memahami kondisi lingkungan, prajurit juga dituntut memiliki ketelitian dalam menilai risiko sebelum mengambil keputusan. Kesalahan mengenali tumbuhan atau sumber makanan dapat menimbulkan bahaya, termasuk risiko keracunan.
Melalui materi ini, personel TNI dan ADF memperoleh kesempatan untuk memperdalam pemahaman mengenai tantangan bertahan hidup di alam terbuka dalam lingkungan latihan yang terkendali.
Perkuat Ketahanan Fisik dan Mental Prajurit
Latihan survival menjadi salah satu sarana untuk membangun kesiapan prajurit menghadapi kondisi lapangan yang dinamis. Selain pengetahuan teknis, kemampuan bertahan hidup juga membutuhkan ketahanan fisik, kesiapan mental, kedisiplinan, serta kemampuan menilai situasi secara cermat.
Dalam konteks operasi militer, keterbatasan logistik dan kondisi medan dapat memengaruhi pelaksanaan tugas. Karena itu, pembekalan kemampuan dasar bertahan hidup menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapan personel ketika menghadapi keadaan darurat.
Kegiatan tersebut sekaligus memberikan ruang bagi prajurit kedua negara untuk saling bertukar pengetahuan dan pengalaman mengenai cara menghadapi tantangan lingkungan selama operasi.
Interaksi langsung di lapangan diharapkan memperkuat pemahaman bersama, termasuk mengenai prosedur, kesiapsiagaan, serta koordinasi antarpersonel.
Keris Woomera Perkuat Kerja Sama TNI–ADF
Pelaksanaan survival training merupakan bagian dari rangkaian Latgabma Keris Woomera 2026 yang melibatkan TNI dan ADF.
Latihan bersama tersebut menjadi sarana untuk meningkatkan profesionalisme prajurit sekaligus memperkuat interoperabilitas atau kemampuan kedua angkatan bersenjata dalam melaksanakan kegiatan secara terpadu.
Kerja sama pertahanan tidak hanya mencakup latihan teknis, tetapi juga pertukaran pengetahuan, penyelarasan prosedur, dan pembentukan pemahaman bersama dalam menghadapi berbagai tantangan operasional.
Bagi Indonesia dan Australia, kegiatan latihan bersama menjadi bagian dari diplomasi militer untuk mempererat hubungan bilateral serta membangun kepercayaan di bidang pertahanan.
Melalui latihan di Baluran, TNI dan ADF terus mengembangkan kemampuan personel dalam menghadapi kondisi lapangan yang beragam. Pembekalan tersebut diharapkan mendukung kesiapan prajurit, meningkatkan ketahanan fisik dan mental, serta memperkuat kerja sama pertahanan kedua negara di kawasan Indo-Pasifik.















Komentar