JurnalPatroliNews | Deliserdang – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) mengerahkan pesawat untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna memicu turunnya hujan dan membantu mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah.
Wakil Gubernur Sumatera Utara, Surya, melepas penerbangan pesawat Cessna Caravan di Terminal Kargo Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deliserdang, Jumat (16/10/2026) sore. Operasi tersebut dilaksanakan atas instruksi Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution.
Sebelum penerbangan, Surya meninjau proses pemuatan bahan penyemaian berupa natrium klorida (NaCl) atau garam. Bahan itu akan ditaburkan pada awan yang memenuhi persyaratan atmosfer tertentu untuk membantu proses pembentukan hujan.
Wilayah Medan, Binjai, Deliserdang, dan sekitarnya menjadi sasaran awal operasi. Setelah itu, penerbangan akan diarahkan ke wilayah lain sesuai kebutuhan dan kondisi cuaca.
“Lokasi pilihannya pertama adalah wilayah Medan-Binjai-Deliserdang dan sekitarnya. Selanjutnya akan ke daerah lain,” ujar Surya.
Kabut Asap Ganggu Penerbangan
Surya menjelaskan, kabut asap yang melanda Sumatera Utara tidak hanya berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, tetapi juga menurunkan jarak pandang dan berdampak terhadap aktivitas transportasi udara.
Kondisi tersebut turut dirasakan di Bandara Internasional Kualanamu. Dalam dua hari terakhir, sejumlah jadwal penerbangan mengalami gangguan akibat terbatasnya jarak pandang.
Data yang diberitakan ANTARA menyebutkan, tiga penerbangan domestik di Kualanamu dibatalkan, sedangkan 11 penerbangan domestik dan internasional mengalami penundaan. Pemprov Sumut juga menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk berbagai jenjang pendidikan pada 16–21 Oktober 2026 sebagai langkah menghadapi dampak kabut asap.
Situasi tersebut mendorong pemerintah daerah mengupayakan langkah tambahan untuk mengurangi sebaran asap dan memperbaiki kondisi udara.
Surya mengatakan, pelaksanaan modifikasi cuaca bergantung pada kondisi atmosfer, terutama ketersediaan awan yang sesuai untuk penyemaian. Pesawat tidak bisa langsung menaburkan NaCl di lokasi yang diinginkan apabila awan sasaran belum ditemukan.
Karena itu, tim penerbangan harus mencari awan yang memenuhi kondisi untuk mendukung proses penyemaian sebelum bahan tersebut dilepaskan.
Operasi Direncanakan Berlangsung Tiga Hari
Surya berharap operasi modifikasi cuaca dapat membantu memicu hujan sehingga kabut asap berkurang dan aktivitas masyarakat kembali berjalan lebih baik.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Tuahta Saragih, menjelaskan bahwa operasi tersebut direncanakan berlangsung selama tiga hari.
Setiap penerbangan membawa sekitar satu ton NaCl dengan durasi terbang kurang lebih dua jam. Penerbangan dijadwalkan dilakukan dua kali sehari.
Melalui operasi ini, Pemprov Sumut berharap turunnya hujan dapat membantu mengurangi konsentrasi kabut asap dan memperbaiki kualitas udara di wilayah terdampak.
Meski demikian, efektivitas penyemaian tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang mendukung. Operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu upaya penanganan dampak kabut asap, yang perlu berjalan beriringan dengan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di sumbernya.















Komentar